Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Warga Sengari: “Kami Hanya Ingin Hirup Udara Segar, Bukan Asap dan Limbah Porang
Ekbis

Warga Sengari: “Kami Hanya Ingin Hirup Udara Segar, Bukan Asap dan Limbah Porang

By Redaksi3 Mei 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pabrik Porang yang berlokasi dekat pemukiman warga di Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Foto: Berto Davids/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Di tengah cerahnya cuaca siang itu, di antara hiruk pikuk para pekerja pabrik porang, terlihat sekelompok warga duduk di bale-bale sederhana sambil menutup hidung.

Berbekal baju di badan, mereka berjuang melawan udara kotor dan bau limbah yang berasal dari aktivitas pabrik porang yang beroperasi dekat pemukiman.

Bagi mereka, asap dan limbah pabrik adalah teman sehari-hari. Bau menyengat yang menusuk hidung menjadi aroma tersendiri di lingkungannya.

Warga RT:02/RW:03 Lingkungan Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai ini berusaha dengan daya sendiri bertahan hidup di samping lokasi pabrik yang beberapa pekan terakhir terus beroperasi tanpa memikirkan dampak.

Di sisi lain, pabrik seakan tidak menggubris keluhan warga dan masih ngotot untuk tidak mau direlokasi.

Setiap hari bau busuk limbah pabrik bercampur aduk menghiasi aktivitas warga setempat

VoxNtt.com menjumpai seorang warga terdampak, Maria Korina Alus pada Minggu 3 April 2026.

Sembari menutup hidung ia mengaku tidak nyaman semenjak pabrik milik PT Agro Porang Nusantara itu beroperasi dekat pemukiman warga.

Ia merasa udara yang berasal dari asap pabrik sangat kotor, ditambah air limbah hasil cucian porang yang sangat bau, membuat warga sekitar tak bisa menghirup udara segar.

Padahal, kata Maria, warga sangat membutuhkan udara segar di pagi hari untuk memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik, khususnya lansia dan anak-anak.

“Kami hanya ingin hirup udara segar, bukan asap dan limbah porang,” ungkap Maria.

Bagi Maria, kenyamanan dan ketenangan warga sekitar adalah hal yang paling nomor satu. Karena itu ia meminta agar pabrik tersebut secepatnya direlokasi.

“Yang kami butuh setiap hari udara segar, bukan asap dan limbah pabrik. Itu sudah bisa membuat kami tenang dan nyaman,” ungkapnya.

Warga lain, Nikodemus Sutarto juga mengeluh hal serupa.

Nikodemus mengaku kerap merasakan dampak asap dan bau limbah yang menyengat sampai ke hidung dan tenggorokan.

Setiap bangun pagi ia biasanya beraktivitas di luar rumah, tetapi sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah karena takut terkontaminasi oleh asap dan limbah pabrik.

Sarapan pagi pun kadang tidak nyaman karena khawatir udara pabrik masuk sampai ke nasi.

Karena itu ia meminta pabrik porang tersebut segera direlokasi agar warga tidak merasakan udara kotor yang ditimbulkan dari aktivitas pabrik.

“Kami butuh udara bersih, udara yang baik dan layak dihirup, bukan asap atau limbah yang menyengat,” ucap Nikodemus.

Untuk diketahui polemik pabrik porang yang melibatkan PT Agro Porang Nusantara dan warga setempat terus berlanjut.

Warga tetap bersi keras agar pabrik yang beroperasi sangat dekat dengan permukiman itu direlokasi. Warga juga menilai mekanisme pendiriannya sudah cacat prosedur serta memicu gangguan lingkungan seperti kebisingan, bau menyengat, dan asap.

Sementara itu pihak perusahaan membantah keras tudingan bahwa pabrik mereka mencemari lingkungan dan menggunakan bahan berbahaya.

Perusahaan memastikan asap yang keluar berasal dari bahan bakar cangkang kemiri dan boiler yang dinilai aman dan ramah lingkungan

Polemik tersebut pun sudah dimediasi oleh pemerintah setempat. Namun belum ada hasil karena permintaan warga untuk relokasi pabrik belum dapat dipenuhi oleh pihak perusahaan.

Perusahaan beralasan belum mempunyai izin baru untuk merelokasi pabrik porang karena titik ordinatnya dikhawatirkan tidak sama atau berbeda.

Saat ini perusahaan mengklaim masih bekerja pada legalitas yang sah, baik soal izin maupun dampak lingkungannya.

Penulis: Berto Davids

Kabupaten Manggarai Kecamatan Reok Kelurahan Wangkung
Previous ArticleProsesi Patung Bunda Maria Penolong Abadi Jadi Ikon Ziarah Umat Paroki Karot
Next Article Pergub Gerakan Jam Belajar di Rumah Diluncurkan, Perkuat Peran Keluarga dalam Pendidikan

Related Posts

Maju Pilkades Loce, Wilibrodus Rian Usung Penguatan Pertanian hingga Wisata Budaya

1 Juni 2026

Mobil Avanza Tabrak Rumah di Cibal, Empat Warga Luka-Luka

30 Mei 2026

Petani Desa Meler Sukses Budidayakan Bawang Merah di Daerah Dingin

29 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.