Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»RSUD Soe Tanggapi Kasus Kematian Yohana dan Bayinya
HEADLINE

RSUD Soe Tanggapi Kasus Kematian Yohana dan Bayinya

By Redaksi5 Mei 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Jasad Yohana Da Silva
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Soe, Vox NTT- Kasus kematian Yohana Da Silva dan bayinya yang baru lahir di RSUD Soe sampai saat ini menjadi sorotan publik. Salah satunya ditujukan kepada dokter EM sebagai dokter spesialis kandungan yang menangani proses persalinan Yohana.

Seperti dikisahkan Yafred (suami Yohana) sebelumnya, Dokter EM sempat memberikan obat perangsang saat Yohana hendak melahirkan.

Namun setelah memberi obat, EM keluar dari ruang persalinan dan menitipkan pesien kepada 4 orang bidan untuk memantau perkembangan selanjutnya.

Lebih lanjut kata Yafred, setelah melihat kondisi Yohana yang sudah lemas, sesak nafas, pucat serta pendarahan hebat, salah seorang bidan berusaha menelpon dokter EM namun tidak dijawab.

Saat itu, bayi memang berhasil keluar. Namun nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Ketika dokter EM datang dia hanya berusaha mengeluarkan ari-ari yang masih tertinggal di dalam perut. Sayangnya nyawa Yohana juga tidak bisa diselamatkan.

BACA:Istri dan Anak Meninggal, Yafred Nekat Polisikan Dokter dan Bidan RSUD SoE

Semenjak berita ini diturunkan VoxNtt.com mencoba menghubungi dokter EM, namun belum berhasil.

Secuil informasi hanya didapat dari Kepala Tata Usaha (KTU) RSUD SoE Rikard Sareng. Kepada wartawan di ruang kerjanya Kamis (4/5/2017), Sareng mengungkapkan bahwa dokter EM mengacuhkan panggilan telepon maupun WA saat persalinan Yohana karena sedang mengurus pasien lain di Klinik Sarah yang ternyata klinik pribadi EM.

Berdasarkan hasil AMP (Audit Maternal Pernatologi), jelas Rikard,  dokter EM mengaku tidak menerima telepon dan tidak membaca WhatsApp dari bidan ketika ibu Yohana mengalami pendarahan hebat di ruang persalinan RSUD SoE.

“Dia akui tidak angkat telepon maupun WhatsApp dari bidan karena sedang sibuk melayani pesien,”terang Rikard.

Sementara mengenai penyebab kematian pesien berdasarkan AMP karena indikasi ‘keterlambatan lahir’ dimana bayi lahir lebih satu hari berdasarkan perhitungan medis.

Lebih lanjut kata Rikard, berdasarkan  hasil pemeriksaan USG tanggal 13 April dan hasil pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 25 April kondisi pesien Yohana dan bayinya dalam keadaan NORMAL.

“Hasil periksaan Laboratorium dan USG tanggal 13 April dan tanggal 25 April ibu dan bayinya dalam keadaan normal,”jelas Rikard.

Lalu apa penyebab kematian ibu dan bayinya meninggal dunia? Rikard hanya mengatakan penyebabkan kematian karena terlambat melahirkan sehingga lewat satu hari dari prediksi medis.

Meski demikian pihak RSUD SoE kata Rikard sudah mengambil keterangan pada bidan Marlin Manbait, Maria Dambuk serta dua bidan praktek yang dirahasiakan namanya.

“Dua bidan yang ditugas serta dua orang bidan praktek sudah kita ambil keterangannya dan belum diambil tindakan karena sedang dalam pendalaman,”jelas Rikard.

Untuk diketahui, kasus kematian Yohana Da Silva dan bayinya kini sedang ditangani aparat Polres TTS setelah menerima laporan dari Yafred Nuban (suami Yohana).

Laporan itu diterima oleh IPDA Otnial Natonis dengan nomor LP/136/V/2017/Res TTS tertanggal 03 Mei 2017. (Paul Resi/VoN)

 

TTS
Previous ArticleRumput Liar Bertumbuh Subur di Halaman RSUD Aeramo
Next Article Jadwal Kunker 30 Anggota DPRD Mabar Belum Jelas

Related Posts

Pastor Pantura Tolak Tambang Mangan di Reok dan Lamba Leda Utara

8 Agustus 2026

Keuskupan Agung Ende dan Warga Flores Gugat Tiga SK Geothermal ke Mahkamah Agung

31 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026
Terkini

DPRD Manggarai Tinjau TPA Ncolang, Minta Pemkab Siapkan Dana Taktis untuk Tangani Keluhan Sampah

13 Agustus 2026

SDK Lewe Gelar Perkemahan Pramuka Sambut HUT ke-65

13 Agustus 2026

Serap Aspirasi Warga Papagarang, Hasanudin Minta Pemerintah Hadir Penuhi Kebutuhan Dasar Masyarakat

13 Agustus 2026

Pramuka Manggarai Barat Dorong Generasi Muda Dukung Swasembada Pangan

13 Agustus 2026

Luncurkan 100 Tahun SDK Lungar, Siswa SD dan SMP Tampilkan Tarian Sae Tiba Meka

13 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.