Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Masyarakat Adat Manggarai Tutup Tahun dengan Ritual ‘Teing Hang’
Feature

Masyarakat Adat Manggarai Tutup Tahun dengan Ritual ‘Teing Hang’

By Redaksi31 Desember 20164 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng,VoxNtt.com-Ritus “Teing Hang”  merupakan bentuk syukur dan doa kepada Tuhan melalui perantaraan leluhur dalam masyarakat adat Manggarai.

Ritual ini biasa dilakukan menjelang tahun baru sebagai wujud syukur atas tahun yang lama dan mohon berkat  atau rejeki  di  tahun  yang  baru.

Ritus ” Teing Hang” berasal kata ‘’Teing’’ yang artinya memberi  dan “Hang”  artinya makan, bisa juga diartikan sebagai sesajian untuk leluhur. Secara harafiah teing hang adalah memberikan sesajian kepada nenek moyang sebagai bentuk syukur dan doa.

Ritual untuk nenek moyang yang telah meninggal ini biasa diadakan setiap  kali akhir tahun seperti di Kampung Tenda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai.

Biasanya dilakukan oleh masing-masing kepala Keluarga dengan mengundang  tokoh adat sebagai pemandu “torok“.

Torok adalah ungkapan adat dengan menggunakan bahasa kiasan untuk arwah nenek moyang sebagai perantara doa kepada Tuhan.

Ritus  tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang  tanpa  ada orang yang jago torok. Dengan kata lain si pelantun torok adalah jubir yang sudah dipercayakan oleh warga kampung sebagai pemandu dalam ritus ini.

Torok sebagai  pemandu harus mengetahui dan bisa  mengungkapkan bahasa “torok tae” (bahasa kiasan) kepada arwah nenek moyang.

” Ritus teing hang pada akhir tahun baru merupakan bentuk syukuran yang diutarakan kepada arwah  nenek moyang yang telah meninggal dunia pada tahun yang lama dan memohon berkah di tahun baru ” kata Domi Datut seorang Torok  (Pemandu)  yang dipercayakan Masyarkat Kampung Tenda setelah melakukan ritus ini di salah satu rumah warga kampung Tenda, Jumat (30/12) Malam.

Dia menjelaskan tahap dalam acara Teing Hang  akhir tahun yaitu “Paneng Cepa” (memberikan kapur sirih, sirih, pinang), “teing  tuak” (Memberikan Moke), “Kebut Wulu Manuk Lalong Bakok” (Mencabut bulu
ayam jantan putih ), ” Mbele Manuk Bakok” ( sembelih  Ayam Jantan putih), ” Toto Urat” ( melihat urat usus Ayam jantan yang sudah disembelih dan dibakar), hingga di puncak “teing hang ise empo agu ame” (Memberi makanan kepada nenek moyang dimana sesajian tersebut disimpan persis di tiang utama rumah), dan “hang cama” (makan bersama keluarga di dalam rumah).

Paneng cepa sebagai bentuk penghargaan awal menyambut kedatangan Nenek Moyang.  Dalam tradisi masyarakat Tenda dan Manggarai umumnya, kapur sirih, daun sirih dan pinang adalah makanan penyambut dikala tamu pertama kali hadir di rumah.

“Tahap pertama kita paneng cepa dengan menggunakan bahasa torok tae  mempunyai  maksud kita menyapa mereka dengan  sopan santun dalam mengundang arwah nenek moyang hadir bersama kita dalam ritus ini” kata Domi

Lanjutnya, tahap teing tua yakni memberikan moke kepada arwah untuk menambah rasa persatuan antara nenek moyang dengan keluarga  di dalam rumah

” Kita akan lebih akrab lagi ketika kita memberikan tuak dengan menggunakan bahasa roh atau torok ” ujarnya

Kebut Wulu Manuk Lalong bermakna agar bersih dan suci  dengan memiliki hati, pikiran, perkataan dan tindakan yang bersih pada tahun yang baru.

“Pada tahap ini kita meminta supaya hati dan  pikiran diterangi pada tahun baru melalui  perkataan dan tindakan sesuai dengan putih bersih ayam jantan tersebut” katanya

Seterusnya ayam jantan dibunuh dan darahnya dibiarkan tetes di atas mangkuk putih agar pemandu bisa melihat darah tersebut.

“Kita biarkan darah di atas mangkuk artinya supaya bencana  tidak menimpa keluarga yang dapat melalui tetesan darah yang ada di mangkuk “ucapnya

Tahap berikut ayam dibakar setelah itu dilanjutkan dengan  “toto urat manuk” yakni melihat bagian  urat usus ayam jantan  untuk melihat apakah keluarga akan memiliki banyak rejeki di tahun yang baru.

Si pemandu atau torok tadi dengan kemampuannya bisa menerjemahkan susunan urat ayam itu, apakah mendatangkan berkat atau bencana.

Tahap berikutnya, ayam jantan tadi dibakar sehingga sebagian dagingnya disajikan bersama nasi dan air minum kepada nenek moyang yang disimpan persis di lantai tempat  dibangunya tiang utama dalam rumah

“Selanjutnya kita berikan sesajian ini kepada nenek moyang sebagai rasa syukur dan mohon berkat di tahun yang baru” ujar Domi.

Tahap berikutnya keluarga dan undangan yang hadir kemudian makan bersama sambil bersenang-senang dalam rumah menyambut tahun baru.

Untuk sekedar diketahui, Ritus ini diadakan jelang akhir tahun tergantung keluarga yang menentukan hari dan tanggalnya tetapi biasanya warga adakan ini pada satu atau dua hari sebelum 1 januari. (Rony Dale/VoN)

Manggarai
Previous Article‘PR’ untuk Pejabat Eselon II-B Manggarai
Next Article Keluarga Besar Cibal Kupang Gelar Natal dan Tahun Baru Bersama

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.