Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KOMUNITAS»Umat Katolik Rayakan Penutupan Bulan Maria di Hari Lahir Pancasila
KOMUNITAS

Umat Katolik Rayakan Penutupan Bulan Maria di Hari Lahir Pancasila

By Redaksi3 Juni 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Umat Katolik, KUB St. Stefanus Martir, paroki St. Yosef Kisol, merayakan penutupan bulan Maria di Pantai Cepi Watu Borong (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Puluhan umat katolik dari Kelompok Umat Basis (KUB) St. Stefanus Martir, Paroki St. Yosef Kisol, merayakan penutupan bulan Maria di Pantai Cepi Watu Borong, Sabtu (01/06/2019).

Kegiatan itu bersamaan dengan peristiwa hari lahirnya Pancasila yang digelar setiap tanggal 1 Juni.

Terpantau, kegiatan itu tidak hanya dihadiri kalangan orang tua, tetapi juga para lansia dan anak-anak.

Acara itu diawali dengan doa syukur kepada Bunda Maria, dilanjutkan dengan pose bersama.

Kepada VoxNtt.com, Stefanus Selasa (37) salah satu anggota KUB St. Stefanus Martir mengatakan, kegiatan itu merupakan kesepakatan bersama.

“Kami sebelumnya melakukan rapat, memang ada yang menolak tetapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya mereka setuju,” ujarnya.

Pertimbangan itu, kata dia, terutama berkaitan dengan momen kelahiran Pancasila.

“Itu yang menjadi poin kesepakatan kita. Apalagi saat ini semangat untuk menjiwai pancasalia sangat kurang. Oleh karena itu kami gabungkan kegiatan ini,” ucapnya.

Bangun Kekuatan Spritual dan Nasionalisme secara Bersama

Menurut Stefanus, sebuah kelompok umat basis perlu dibangunnya semangat spiritual yang dilandaskan dengan rasa kebersamaan.

“Tentu kalau kita bersatu dalam iman dan kebersamaan maka kita kuat, kita kuat dalam iman dan kebersamaan maka kita bersatu,” ujarnya.

Menurutnya, kekuataan kebersamaan akan berdampak pada motivasi setiap individu atau umat untuk membangun solidaritas iman dengan sesama.

“Ini tujuan kita ke depan apalagi ini baru dilakukan pertama kali, semangat ini yang perlu kita tumbuhkembangkan ke depan,” tukasya.

Kendati demikian, lanjut Stefanus, tidak hanya membangun spritual tetapi juga semangat mencintai kebangsaan.

Apalagi, kata dia, kelahiran Pancasila adalah momen bersejarah sekaligus dasar yang Negera yang perlu dipegang oleh setiap warga termasuk umat gereja.

“Kita adalah bagian dari negara oleh karena itu umat gereja perlu dibangunnya kesadaran untuk mencintai Negaranya,” imbuhnya.

Dijelaskannya, momen 1 Juni perlu direfleksikan sebagai bagian dari pegangang hidup yang perlu dijiwai oleh seluruh warga Negara. Apalagi lanjut dia, bangsa Indonesia baru saja melewati pesta rakyat yang banyak menyisahkan pilu dan duka.

“Ini tugas kita ke depan sehingga kegiatan seperti perlu dilakukan secara terus menerus,” pintanya.

Belum Tertata

Kegiatan itu bagi Stefanus dan beberapa umat yang hadir tidak hanya momen rekreasi bersama. Mereka justru memberikan kesan penting bagi pemangku kebijakan di Kabupaten Matim.

Kesan itu terutama berkaitan dengan pengeloaan Pantai Cepi Watu sebagai destinasi wisata di Matim.

“Memang kita lihat di sini belum baik dan terkesan romol bayak tempat yang rusak dan sampah dibuang sembarangan,” ujarnya.

Dia menilai tempat wisata itu belum tertata secara baik oleh Pemda. Lanjut dia, apabila hal itu tidak diperhatikan maka akan berdampak pada jumlah kunjungan para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

“Kan kalu begini bentuknya pasti akan meninggalkan kesan yang kurang baik dari para pengunjung, sehingga mereka tidak mau datang ke sini (Cepi Watu), saya berharap pemda bisa memperhatikan ini dengan baik,” tukasnya.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Manggarai Timur
Previous ArticleTokoh Agama Minta Masyarakat Tetap Jaga Persaudaraan
Next Article Lapen di Segmen Owak- Poa Akhirnya Diperbaiki

Related Posts

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Kejaksaan Manggarai Akui Dampingi Proyek Hotmix Rp14,4 Miliar di Matim, Dugaan Material Ilegal Akan Diteruskan

29 Juli 2026

Proyek Hotmix Watu Cie-Deno Senilai Rp14 Miliar Diduga Gunakan Material Ilegal, Kontraktor dan Dinas PUPR Bungkam

28 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.