Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Wilayah Adat Makin Terhimpit, Marga Parengu Napu Bentuk Forum Adat
NTT NEWS

Wilayah Adat Makin Terhimpit, Marga Parengu Napu Bentuk Forum Adat

By Redaksi15 Januari 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Waingapu, VoxNtt.com-Delapan Marga Parengu (kampung besar) Napu membentuk Forum Masyarakat Adat Napu yang diberi nama “Pangadangu Madangu” di daerah administrasi Larawali, Desa Napu, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba timur, Selasa (10/01/2017) lalu.

Forum ini melibatkan delapan Marga (Kabihu) yang ada di parengu Napu meliputi marga/Kabihu Anamaari, marga/kabihu Pahoka, marga/kabihu Tumbu Kawawu, marga/kabihu Analingu, marga/kabihu Bohu, marga/kabihu matolang, marga/kabihu Ratu dan marga/kabihu Tumbur Metung.

Dalam musyawarah yang dilakukan di Kotak (kampung kecil) Laruwali Sabtu, 7 Januari 2016 dan Selasa 10 Januari 2017 para tokoh marga ini mengorganisir diri karena kesadaran mereka dengan makin terhimpitnya  wilayah adat/budaya dan wilayah kelola mereka. 

“Tanah ulayat kami sepanjang pantai larawali sudah menjadi incaran para mafia-mafia dan calo calo tanah dimana di sepanjang pantai tersebut merupakan tempat-tempat Hamayang bagi kami, baik di mananga, pahomba dan katoda.” tandas Meta Yiwa (70 Tahun) salah satu wunang dari marga Tumbu Kawawu.

Hal senada juga disampaikan oleh Triawan Umbu Uli M.K (33 tahun) juru bicara “Pangadang Madangu”  sekaligus salah satu tokoh muda di Parengu Napu.

Triawan menegaskan, selain pendidikan, tanah ulayat adalah modal bagi mereka yang harus dijaga secara turun temurun sehingga perlu ada wadah pengorganisasian di tingkat kabihu sebagai pemilik ulayat.

“Forum ini sebagai wadah transformasi nilai antar generasi dalam marga” tambah Triawan. (AGD/VoN)

Foto Feature: Komunitas Pangadangu Madangu saat ritual adat

 

Sumba Timur
Previous ArticleBarca Libas Las Palmas dengan Lima Gol Tanpa Balas
Next Article Sebanyak 138 Pedagang Tempati Kios Baru di Pasar Borong

Related Posts

Keuskupan Agung Ende dan Warga Flores Gugat Tiga SK Geothermal ke Mahkamah Agung

31 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

Demokrat Manggarai Timur Tanam 250 Pohon dan Bersihkan Pantai Borong

17 Juli 2026
Terkini

Pemerintah Kecamatan Reok Barat Bantah Kontribusi ASN untuk HUT RI Merupakan Pungli

7 Agustus 2026

Progres Jalan Nasional Ruteng-Reo-Kedindi Capai 86 Persen, Ditargetkan Rampung Sebelum Musim Hujan

6 Agustus 2026

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.