Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Frans Skera: Revolusi Pertanian Malaka Perlu Diikuti Daerah Lain di NTT
NTT NEWS

Frans Skera: Revolusi Pertanian Malaka Perlu Diikuti Daerah Lain di NTT

By Redaksi8 Januari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Frans Skera saat berbicara dalam Diskusi Pertanian Lahan Kering NTT di Aula DPD NTT, Kota Kupang, Selasa 7 Januari 2020
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Fransiskus Skera, politisi-intelektual sekaligus tokoh masyarakat NTT menilai kemiskinan sulit dihapus dari NTT jika mengabaikan sektor pertanian.

“Kalau kita mengabaikan pertanian dalam arti luas, kemiskinan sulit dihapuskan dari NTT”  kata tambah Frans Skera, saat mengikuti Diskusi bertema Kemiskinan dan Pola Pengembangan Lahan Kering NTT di Aula DPD Propinsi NTT, Kota Kupang, Selasa (07/01/2020).

Menurut dia, dalil yang disampaikannya tersebut didukung oleh fakta historis NTT. Ia mengungkapkan Gubernur Eltari selama masa kepemimpinannya pernah mengekspor sapi ke Hongkong dan Singapura.

Fakta lain ialah orang NTT banyak yang mengenyam pendidikan dari hasil pertanian, Selain itu pada zaman Gubernur Ben Mboi NTT pernah mengalami surplus pangan khususnya jagung.

“Walaupun belum marketabel, tapi ini fakta bahwa kita pernah surplus pangan,” ungkap mantan anggota DPR RI ini.

Fakta-fakta ini, demikian Frans, merupakan bukti bahwa NTT bisa hidup dari pertanian. Namun sayangnya, Frans mengakui saat ini petani NTT banyak yang sudah tua. Sementara anak-anak muda banyak yang lari cari kerja ke luar negeri.

Selain itu, pertanian NTT juga kurang mendapat perhatian yang serius dari pemerintah sehingga banyak lahan tidur dan tidak produktif.

Untuk itu, para petani perlu didukung oleh teknologi pertanian modern agar dapat mempertahankan produktivitas pada masa yang akan datang.

Salah satu dukungan teknologi pemerintah daerah yang perlu diapresiasi saat ini, lanjut Frans, adalah program Bupati Malaka, Stef Bria Seran.

Lewat, program Revolusi Pertanian Malaka (RPM), Frans menilai program tersebut sangat tepat untuk membantu para petani karena menggemburkan tanah dan membuka lahan baru secara gratis dengan traktor.

“Kalau bupati Stef bisa, kenapa yang lain tidak?” katanya.

Menurut dia, program RPM yang selama 4 tahun terkahir berlangsung di Malaka perlu diikuti pemerintah daerah lain di NTT. Program ini katanya, merupakan bentuk dukungan pemerintah agar menuntaskan masalah tanah di NTT terkenal dengan keras dan berbatu.

“Selama ini pertanian NTT mundur, mandeg dan memelas. Intevensi pemerintah sangat dibutuhkan untuk membantu petani. Jangan malu-malu tiru itu bupati Malaka” katanya.

Berbicara NTT, lanjut Frans, tidak terlepas dari masalah kemiskinan yang telah lama menjadi masalah serius di daerah ini. Saat ini tingkat kemiskinan di NTT mencapai 21.09 persen per tahun 2019, jauh di atas tingkat kemiskinan nasional yang hanya mencapai 9 persen.

Jika berbicara kemiskinan, maka tidak bisa dilepaskan dari persoalan para petani yang merupakan mayoritas penduduk NTT. Para petani juga menyumbang angka kemiskinan yang paling tinggi khusus petani lahan kering di desa-desa.

Dengan adanya otonomi daerah, lanjut Frans, maka tugas untuk mengeluarkan petani dari jerat kemiskinan menjadi tanggung jawab utama para bupati di NTT.

“Coba kita lihat selama era reformasi. Berapa banyak bupati di NTT yang omong tentang pertanian? Mereka lebih banyak sibuk bangun infrastruktur jalan dan jembatan. Jadi pertanian diabaikan karena sistem politik kita yang belum beres,” ungkapnya.

Ia juga menyentil program unggulan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat yang menjadi pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT.

Menurutnya paradigma ini perlu dievaluasi lagi supaya tidak menganaktirikan sector pertanian. Karena itu ia mengusulkan agar pengembangan pembangunan NTT ke depan harus dalam konsep agrowisata. (VoN)

Malaka RPM Malaka SBS Stef Bria Seran
Previous ArticleDian Sastro Sebut Pariwisata Labuan Bajo Masih Alami
Next Article Bahas Kemiskinan Petani NTT, Forum Reses Ansy Lema Bentuk Pokja

Related Posts

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.