Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Di Belu Ada Siswa Kelas Tinggi SD Belum Bisa Membaca
Pendidikan NTT

Di Belu Ada Siswa Kelas Tinggi SD Belum Bisa Membaca

By Redaksi21 Februari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Siswa kelas 5 dan 6 di Belu ada yang tidak tahu baca
Camat Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Vinsensius Moruk (Ketiga dari kiri) saat memberikan arahan kepada masyarakat Desa Dafala terkait tanggung jawab orang tua terhadap Pendidikan anak. (Foto: Marcel Manek/Vox NTT).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua, Vox NTT-Temuan mengejutkan di Kabupaten Belu, ada siswa kelas tinggi yakni kelas IV, V dan kelas VI sekolah dasar (SD) yang sama sekali belum bisa membaca.

Fakta banyak siswa belum bisa membaca ini disampaikan Camat Tasifeto Timur, Vinsensius Moruk saat menyampaikan arahan dalam kegiatan tanam kelor di Balai Desa Dafala, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu, Kamis (20/02/2020).

Vinsensius Moruk yang mengaku baru empat bulan menjabat sebagai camat Tasifeto Timur ini mengaku bahwa sejak menjabat sebagai camat, dirinya rutin mengikuti upacara bendera di sekolah-sekolah di wilayah tugasnya pada setiap hari Senin.

Dalam kegiatan setelah upacara bendera yang diikuti, ia menyempatkan diri untu berinteraksi langsung dengan guru dan siswa di kelas.

Disitulah akui Vinsensius, dirinya menemukan bahwa pada siswa kelas tinggi yakni kelas IV,V dan siswa kelas VI bahkan ada siswa Sekolah Menengah Pertama(SMP) yang belum bisa membaca.

Kondisi ini menurut Vinsen sangat memprihatinkan. Seharusnya, baca tulis dan berhitung sudah dikuasai siswa saat berada di kelas I, II dan kelas III. Namun fakta yang ia temukan bertolak belakang dengan apa yang seharusnya diharapkan.

Baca: Wanita Asal Matim Lolos dari Cengkraman Penjual Manusia, Begini Modus Pelaku

Meski tidak menyebutkan jumlah ril banyaknya peserta didik kelas tinggi pada Sekolah Dasar yang belum bisa membaca, Vinsensius mengaku, kondisi ini merupakan tanggung jawab semua pihak termasuk orang tua untuk ikut memberikan perhatian kepada anak-anak, sehingga proses belajar mengajar tidak semata diberikan kepada guru di sekolah.

“Saya tidak bermaksud untuk menjudge guru, tetapi fakta di lapangan saya temukan banyak siswa SD kelas lima dan kelas enam, bahkan ada siswa SMP yang belum bisa membaca. Saya temukan juga di beberapa SMP ada siswa di SMP tidak tau baca. Bahkan diakui oleh kepala sekolah sendiri,” ujar Vinsensius.

Ia menambahkan, seharusnya proses belajar 3 M (Membaca, Menulis dan Menghitung) sudah harus selesai di pendidikan SD.

Terikait fakta ini, kepada suluruh masyarakat kecamtan Tasifeto Timur, Camat Vinsensius menegaskan agar orang tua ikut berperan aktif untuk mendampingi proses belajar anak-anak.

Menurutnya, urusan belajar tidak hanya merupakan tanggung jawab guru, tetapi peran aktif orang tua sangat dibutuhkan.

“Ingat, tanggung jawab pendidikan bukan hanya guru di sekolah. Orang tua harus ikut bertanggung jawab untuk mendampingi anak. Saat anak pulang sekolah, orang tua harus tanya, apa yang dipelajari anak di sekolah. Tanyakan juga pekerjaan rumah apa yang diberikan guru, lalu orang tua harus sisihkan waktu untuk dampingi anak belajar di rumah,” ujar Vindenssius.

Baca: Baku Atur di Papan Catur Politik Victor Laiskodat

Terkait temuan fakta banyak siswa belum bisa membaca, Camat Vinsensius mengaku akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Belu untuk sama-sama menacari solusi sehingga persoal banyak siswa belum bisa membaca bisa diatasi.

Selain itu, mantan Sekcam Atambua Selatsn itu juga mengimbau orangtua untuk memperhatikan asupan gizi anak-anak. Ia meminta orangtua memberikan makanan yang bergizi dan mudah dijangkau seperti sayur daun kelor.

Pada kesempatan itu, Camat Tasifeto Timur, bersama Kepala Deda Dafala, Leonardus Kehi dan masyarakat Desa Dafala juga melakukan program tanam kelor sebagai tindak lanjut instruksi Gubernur NTT pada saat kunjungan kerja di Belu beberapa waktu lalu.

Penulis: Marcel Manek

Editor: Boni J

Belu Siwa Tidak Tahu Baca Tasifeto Timur
Previous Article3 Desa di TTU Dapat Bantuan 300 unit Rumah dari Pempus
Next Article PMM Gelar Aksi Terkait Dugaan Pungli di Disdukcapil Manggarai

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.