Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Sepi-Antologi Puisi Ischo Frendino*
Sastra

Sepi-Antologi Puisi Ischo Frendino*

By Redaksi29 Maret 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
ILUSTRASI (Kokoh Praba/JawaPos.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Puisi-Puisi Ischo Frendino

Sepi I

Ku temui Kau di jalan,

Di saat suara bising kendaraan surut

gerbong-gerbong kereta yang kosong

Lampu-lampu jalan yang  kaku berdiri.

Sepi II

Ku temui Kau di jalan,

saat gemuruh adzan

dan lonceng-lonceng gereja memilih diam

Bau-bau kemenyan yang hilang sendirian

Sepi III

Ku temui Kau di jalan,

saat gembok-gembok pagar rapi terkunci

dan suara tangisan bayi hanya dari ventilasi jendela

rayuan manis ayah mekar di ranjang ibu.

Sepi IV

Kutemui Kau di jalan,

Saat tembok, papan tulis dan

bangku-bangku sekolah mengeja bait-bait kesendirian.

Sepi V

Ku temui Kau di jalan,

saat lilin-lilin membakar ujud-ujud doa

dan tangan ibu yang mengatup kaku

menyebut namaku di kejauhan.

Jakarta, 22/03/2020. Di tengah gemuruh Covid.

Zaman Keterlemparan

Adalah zaman keterlemparan

Ada-nya hilang di tengah kerumunan

Rahasia yang sulit terungkap

Di saat diri sendiri mencungkil bola mata,memebelenggu hati

Memenjarakan diri dalam jeruji buatan sendiri

Tak tahu kemana-mana dirinya berasal

dan dari mana dirinya akan tiba

Tersesat dan terus saja tersesat.

Jakarta,18/03/2020

Aphasia

Dari kesekian pergi dan pulang dengan celotehan

musim bergantian tinggal desauan

menjadikan diri paradoks dan pertanyaan

menggigill sendirian, Adakah Ada itu ada?

Ia menggumuli dirinya, mengada

menarik napas. Udara menyingkap. Ventilasi mengetok

berkali-kali dinding dada sebagai enersi dari fenomena respirasi

pada tarikan yang semakin jauh, terpesona

Ada tersingkap sekaligus menyembunyikan diri

kembali ke dalam tanda kurung semakin kalut. Tenang dan hanyut.

Jakarta 15/03/2020

Tentang Penulis:

Saya Ischo Frendino, asal dari Larantuka, Flores Timur, NTT. Hobi saya membaca dan menulis. Tertarik dengan tema-tema yang berkaitan dengan Filsafat, sastra dan politik. Sering menulis puisi di Kompasiana. Saat ini  sedang berkuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Alamat Media Sosial :

Facebook : https://m.facebook.com/ischo_

Instagram : https://www.instagram.com/isco_frendino.0204

Gmail : [email protected].

Ischo Frendino
Previous Article“Chandra Suamiku, di Sini Kota Sudah Mati, Jaga Rindu itu Selalu dalam Doa Kita”
Next Article ODGJ di Soa Pungut dan Kenakan Masker Bekas yang Dibuang Warga

Related Posts

Bersama Senja: Antologi Puisi Cantikan Christiany Dapa

18 Juli 2026

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026
Terkini

Progres Jalan Nasional Ruteng-Reo-Kedindi Capai 86 Persen, Ditargetkan Rampung Sebelum Musim Hujan

6 Agustus 2026

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.