Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Pengusaha Tutup Jalan, Pelajar di Kota Kupang Lewati Jembatan Kayu ke Sekolah
NTT NEWS

Pengusaha Tutup Jalan, Pelajar di Kota Kupang Lewati Jembatan Kayu ke Sekolah

By Redaksi18 Maret 20214 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para Murid dan Guru SD Petra di Kecamatan Alak, Kota Kupang saat melewati Jembatan Kayu, Kamis 18 Maret 2021. (Foto: Tarsi Salmon).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNtt.com-Guru dan pelajar pada tiga sekolah di Kecamatan Alak, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa harus melewati jembatan kayu lalu memanjat pagar untuk menuju ke sekolah. 

Hal itu, karena jalan yang sejak dahulu menjadi akses para guru dan siswa ke sekolah ditutup oleh salah satu penguasaha kaya di Kota Kupang. Jalan yang ditutup pengusaha itu merupakan akses yang menghubungkan tiga sekolah, yakni, TK Petra, SD Petra dan SMKN 7 Kupang.

Pantauan VoxNtt.com di lokasi, para murid dan guru di sekolah itu, harus bertaruh nyawa. Pasalnya setelah melewati jembatan kayu yang berukuran kecil, mereka harus memanjat pagar setinggi dua meter.

Meski beresiko bagi keselamatan mereka, para siswa ini terpaksa melakukannya. Karena tidak ada pilihan lain lagi agar mereka bisa mengenyam pendidikan tepat waktu.

Ada jalan lain, tetapi menurut mereka jaraknya terlalu jauh. Butuh waktu lama dan perjalanan yang panjang untuk bisa tiba di sekolah.

Bukan hanya para pelajar dan guru, orang tua siswa juga terpaksa melewati jembatan dan pagar tersebut, saat menghadiri rapat komite di sekolah.

““Kami lewat kali dan panjat pagar. Karena jalan yang biasa lewat sudah ditutup. Maka jalan satu-satunya, terpaksa kami harus lewat kali,” ungkap Fitri Bangngu, Siswa Kelas 6 SD Petra kepada wartawan, Kamis (18/03/2021).

Siprianus Ba,un, Warga Alak membelakangi tembok perusahaan saat diwawancarai. (Foto: Tarsi Salmon).

Fitri mengaku, setiap hari Ia bersama teman-temannya nekat melewati jalan setapak, jembatan kayu dan memanjat pagar tersebut.

Ia juga mengaku, kendala terbesar yang dihadapi para siswa ialah ketika musim hujan tiba. Tak mau bertaruh nyawa karena banjir dan kondisi kayu-kayu jembatan yang melapuk. Mereka pun terpaksa menempuh jalan umum yang teramat jauh.

“Kami sangat kesulitan, kalau musim hujan. Ditambah lagi jembatannya sudah lapuk. Sehingga kami harus ikut jalan umum yang jaraknya sangat jauh,” tutur Fitri.

Neldiana Kameng Mau, Guru SD Petra, mengatakan, akses jalan tersebut sudah ditutup sejak tahun 2020. Ditutupnya jalan tersebut, sangat menyulitkan para siswa, guru dan orang tua.

“Jadi, akses kami untuk mau ke sekolah itu. Sebelum ada pagar itu, kami jalan gampang-gampang saja. Memang terdapat akses jalan lain, namun para siswa, guru dan orang tua harus melewati jalan umum yang jaraknya 5 KM, dan sangat beresiko karena banyaknya kendaraan yang bisa menyebabkan kecelakaan,” kata Neldiana yang juga guru Wali Kelas VI SD Petra itu.

Neldiana mengaku, sangat prihatin melihat para siswa yang harus bersusah payah, bahkan bertaruh nyawa demi menuntut ilmu di sekolah, karena kondisi jembatannya sudah sangat parah.

“Masa anak-anak hanya mau menuntut ilmu saja, kok harus sengsara seperti ini? Mereka adalah anak-anak penerus generasi bangsa yang harus diperhatikan oleh pemerintah,” tegasnya.

Neldiana meminta pemerintah setempat membuka kembali akses jalan agar dapat digunakan kembali para siswa maupun guru dan orang tua.

“Kami guru-guru SD Petra minta tolong pemerintah setempat. Tolong membantu kami. Kasihan anak-anak kami. Mereka ini anak-anak generasi penerus,” tegasnya.

Hari ini, beberapa warga Alak mendatangi Kantor Camat Alak untuk menyampaikan keluhan mereka terkait masalah tersebut.

Siprianus Ba’un, salah seorang warga Alak mengatakan, pihaknya bertemu dengan Camat Alak menyampaikan keluhan terkait jalan menuju ke sekolah yang sudah ditutup.

“Hari ini kita bertemu bapak Camat. Kami lima orang bertemu langsung dengan Pak Camat di ruangannya sendiri. Di situ kita menyampaikan keluhan terkait jalan menuju ke sekolah yang sudah ditutup,” katanya kepada wartawan.

Sebelumnya, pihaknya pernah menyampaikan keluhan ke Anggota DPRD Kota Kupang. Namun, hingga saat ini pihak Anggota DPRD Kota Kupang belum menindaklanjuti keluhan dari warga Alak tersebut.

“Sebelum itu, kita sudah mengajukan permohonan atau keluhan kita ke DPRD dan sampai BPN Kota Kupang turun ukur. Tapi sampai saat ini tidak ada hasilnya,” tandasnya.

Ia meminta agar pemerintah segera membuka kembali akses jalan menuju ke tiga sekolah tersebut. Ia menambahkan, jika dirinya tinggal di Jakarta, maka kasus ini Ia langsung adukan ke Presiden RI.

“Andai saja, saya hidup di Jakarta, saya pergi ketemu langsung Bapak Presiden. Saya masuk ke Istana demi nasib anak-anak saya ini. Demi generasi penerus pak, saya omong ini,” tegasnya sambil meneteskan air mata.

Informasi yang diterima VoxNtt.com, pengusaha yang menutup jalan menuju sekolah tersebut ialah PT Caycong dan PT Pytobi. Kedua perusahan ini sedang melakukan pembangunan, sehingga akses jalan ditutup dan tidak bisa dilewati oleh siswa, guru, dan orang tua

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT. Pytoby belum dapat dikonfirnasi

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Boni J

Kota Kupang PT Caycong PT Pytoby
Previous ArticleMK Tolak Permohonan Paket Sahabat, AT-AHS Siap Pimpin Belu
Next Article Ruas Jalan Penghubung Tiga Kecamatan di TTU Rusak Berat

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.