Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»PMKRI Pertanyakan Dana JPS bagi Warga Miskin di Belu
MAHASISWA

PMKRI Pertanyakan Dana JPS bagi Warga Miskin di Belu

By Redaksi20 Januari 20221 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua Presidium PMKRI Belu, Oktovianus Tefa
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua, Vox NTT – Perhimpunan Mahasuswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Yohanes Paulus II Atambua mempertanyakan dana bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi warga miskin terdampak Covid-19 di Kabupaten Belu yang sejak September 2021 hingga Januari 2022 belum dibayar pemerintah.

Dalam siaran pers yang diperoleh media ini, Selasa petang (18/01/2022), PMKRI Atambua mempertanyakan perkembangan bansos JPS yang kian tidak jelas perkembangannya.

Dalam rilis yang ditandatangani Ketua Presidium, Oktovianus Tefa,
PMKRI Atambua secara tegas menyampaikan sejumlah pernyataan sikap yang dialamatkan kepada Pemda Belu.

PMKRI mengancam, apabila dalam bulan Januari 2022, Pemda Belu belum kunjung membayar basos JPS kepada penerima manfaat, maka mereka akan menempuh langkah advokasi yang lebih tegas termasuk turun ke jalan.

PMKRI meminta secara tegas Pemerintah Kabupaten Belu untuk transparan menyampaikan kepada 6.577 KK penerima JPS terkait persoalan yang dihadapi.

PMKRI menilai, kehadiran pemerintah dalam kehidupan bernegara adalah untuk mensejahterakan rakyat sehingga tidak ada alasan untuk menahan hak masyarakat.

Seharusnya sesuai regulasi dan petunjuk pengelolaan keuangan daerah, sebut PMKRI, kebijakan refocusing diperuntukan bagi penanganan Covid-19 termasuk persoalan dampak ekonomi yang dialami masyarakat.

Penulis: Marcel Manek
Editor: Ardy Abba

Belu PMKRI PMKRI Atambua
Previous ArticleMasyarakat Adat Tiga Desa di Nagekeo Kecam Kehadiran AMAN dan Aksi Telanjang Dada
Next Article Stefanus Gandi Institut Beri Bantuan ODGJ, Semoga Banyak yang Tergerak Hati

Related Posts

PMKRI dan Proyek Kebhinekaan

26 Juli 2026

Fandis Nggarang Kritik Dugaan “Cawe-Cawe” Alumni dan Politik Uang dalam Kongres PMKRI

23 Juli 2026

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.