Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Warga Poco Leok Disebut Terancam Terusir dari Tanahnya Sendiri
Ekbis

Warga Poco Leok Disebut Terancam Terusir dari Tanahnya Sendiri

By Redaksi9 Maret 20233 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Keluarga Besar Poco Leok se-Jabodetabek bersama Serikat Pemuda NTT menggelar aksi protes penolakan Geothermal di wilayah Poco Leok, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT, Rabu (08/03/2023).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Keluarga besar Poco Leok se-Jabodetabek bersama Serikat Pemuda NTT menggelar aksi protes penolakan proyek geothermal di wilayah Poco Leok, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT, Rabu (08/03/2023).

Aksi protes tersebut dilangsungkan di Kantor Kementerian ESDM dan Kantor Pusat PLN di Jakarta.

Engelbertus Wahyudi, salah satu tokoh muda Poco Leok dalam aksi tersebut menegaskan, rakyat di wilayahnya terancam akan terusir dari tanahnya sendiri.

BACA JUGA: Tolak Proyek Geothermal, Keluarga Besar Poco Leok Jabodetabek Gelar Aksi Unjuk Rasa

“Padahal rakyat dan tanah itu adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Maka jelas geothermal adalah ancaman sebenarnya bagi masayarakat dan tanah Poco Leok,” ujar Engel sebagaimana dalam rilis yang diterima VoxNtt.com, Rabu (08/03/2023).

Engelbertus pun mempertanyakan perluasan titik eksplorasi PLTU Ulumbu.

Ia meminta SK Menteri ESDM yang terbit pada 2017 tentang penetapan Pulau Flores sebagai Pulau Panas Bumi harus dicabut.

BACA JUGA: Diduga Ganggu Warga Poco Leok, Jatam Kecam Tindakan Pemerintah, PLN, dan Aparat Keamanan

“Di SK itu disebutkan untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan listrik dasar (basedload). Nah, ini kan menjadi pertanyaan, sebab Ulumbu dengan potensi kapasitas 10 MW oleh PLN sendiri disebut cukup untuk kebutuhan dasar listrik. Ulumbu sudah berjalan, sudah running, lantas mengapa mesti eksplorasi ke Poco Leok yang terdiri dari 12 kampung adat?” ujar Engel.

Engel menyebut, proyek geothermal sudah keluar dari tujuan untuk pemenuhan kebutuhan energi dasar.

Proyek geothermal disebut Engel berkelindan dengan ekspansi pariwisata, masuknya industri di Flores.

Konsekuensi lanjut dari logika pembangunan semacam itu, rakyat di sekitar titik geothermal akan dipandang sebagai ancaman permanen.

Engel menyimpulkan, perjuangan melawan proyek geothermal Poco Leok adalah perkara perjuangan keberlangsungan hidup masyarakat dan alam.

Sementara, Erik Rayadi yang langsung datang dari Poco Leok, Manggarai ke Jakarta menjelaskan penolakan masyarakat Poco Leok adalah sebuah kesepakatan kolektif.

“Masyarakat Poco Leok menolak kehadiran proyek Geothermal di tanah adat Poco Leok,” kata Erik.

Kesepakatan itu, lanjut Erik, tidak muncul sekejap, tetapi merupakan buah yang semakin matang karena kesadaran masyarakat Poco Leok akan risiko tinggi kehadiran geothermal di gugusan pegunungan yang terdiri dari 12 kampung adat.

Menurut Erik, kepulangan beberapa tokoh muda di Poco Leok memberi kesadaran pada masyarakat akan risiko besar yang akan terjadi jika proyek geothermal dijalankan. Bahkan generasi muda Poco Leok melakukan studi ke wilayah gagal proyek geothermal Mataloko di Kabupaten, Ngada, NTT.

“Jadi kita juga, anak-anak muda Poco Leok di sana, melakukan kajian tentang dampak dan risiko proyek geothermal ini. Di Mataloko kita disajikan kehancuran akibat geothermal,” jelas Erik merujuk pada gagalnya proyek geothermal di Mataloko itu.

Penulis: Ardy Abba

Kabupaten Manggarai Manggarai PLTU Ulumbu Ulumbu
Previous ArticleKesetaraan Gender Perlu Menjadi DNA dalam Diri Masyarakat
Next Article Masyarakat Nanga Bere Minta Dibangunkan Jembatan, Yopi Widyanti akan Perjuangkan

Related Posts

Edi Hardum Minta Menteri HAM Awasi Penanganan Laporan Bupati Hery Nabit di Polres Manggarai

4 Juni 2026

Advokat Publik Nilai Laporan Bupati Manggarai terhadap Edi Hardum Tidak Sesuai Mekanisme UU Pers

3 Juni 2026

Isno Baco Ajak Warga Desa Pinggang Berpolitik “Riang Gembira” pada Pilkades 2026

2 Juni 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.