Oleh: Yulianus Risky Agato
Siswa SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo
Setiap kali berjalan di dekat lampu merah, Amelia selalu saja menoleh ke belakang. Seolah-olah ada saja aba-aba untuk bertahan.
Di tangan kiri dan kanan padat dengan plastik yang berisikan kue kering. Lebih dari satu jam Amelia bertahan di sana.
Bahkan Amelia berjam-jam bertahan di sana. Ia tidak peduli seberapa banyak orang-orang yang memperhatikanya.
Demi jualannya laris manis, ia rela bertahan. Intinya kue kering habis terjual.
Ada yang melihat Amelia dengan kasih sayang namun ada juga yang menatap penuh dengan seribu tanya. Bagi Amelia itu hanya orang-orang yang berjuang untuk bertahan hidup di kota.
Agar diri dan keluarga mereka sehat-sehat. Agar hubungan dengan istri mereka aman-aman. Agar anak-anak mereka luput dari segala duri tajam yang menjalar setiap malam sepanjang trotoar kota.
Agar anak-anak mereka selamat dari segala sengsara dan derita seperti Amelia rasakan. Sehingga Amelia mengabaikan itu semua. Amelia juga tak menghiraukan berapa lama lagi ia akan bebas. Bebas dari semua utang serta segala airmata yang sudah terlanjur buang.
Siapa sangka anak sekecil Amelia memendam masalah besar. Ia sudah memikirkan masalah-masalah besar yang sebenarnya tidak wajar dipikirkan oleh anak-anak seperti Amelia.
Amelia gadis cilik, cantik yang berusia enam tahun lima bulan. Amelia gadis yang murah senyum. Ia tak banyak bicara seperti anak-anak lain.
Amelia lebih memilih diam ketika teman-teman bermainya mempersoalkan ini itu saat mereka berkumpul untuk bermain di halaman rumah Amelia.
Amelia dari dulu memang begitu. Ia dikenal sangat pemalu dan paling pandai mengeluarkan air mata. Ia tahu kapan dan dimana air mata akan tumpah dari kelopak mata.
Amelia tidak seperti anak-anak pada umumnya yang langsung saja menangis apabila dibentak atau dimarah oleh bapa, mama, atau siapa saja.
Ketika berada di tengah teman-teman bermainya, bibir Amelia lebih suka memahami senyum. Seolah-olah ia layaknya seperti anak kecil pada umumnya.
Anak kecil yang bahagia dan damai. Tidak ada masalah apa-apa di dalam diri dan kepala terasa luput dari segala sesuatu masalah yang padat dan penat.
Padahal yang sebenarnya Amelia memiliki rahasia yang besar. Amelia memiliki masalah serius yang tidak bisa dimengerti oleh anak-anak seumuran seperti Amelia.
Selama ini saya sering melihat Amelia menangis. Waktu itu senja hari. Kebetulan saya pulang dari salah satu toko di kota.
Saya melihat Amelia duduk di pinggir trotoar dan membelakangi jalan raya. Di sebelahnya ada keranjang berwarna biru tua yang berisikan beberapa plastik kue kering. Terlihat Amelia sangat letih dan lelah.
Matanya melotot padat pada tembok yang membatasi lapangan dan jalan raya. Sedikit matanya berkaca. Seperti air mata sudah siap untuk segera tumpah.
Dan sudah beberapakali saya menjumpai Amelia di situ. Waktu itu dalam kepala saya, Amelia menangis karena ada masalah sepele dengan teman-teman bermainya.
Ketika saya mendekati Amelia ia malah menjauh dari saya. Semakin saya mendekat, Amelia semakin menjauh. Itu yang membuat saya gugup untuk berbicara dengan Amelia.
Karena tekat yang cukup kuat, akhirnya saya berhasil membujuk Amelia untuk berbicara dengan saya. Kamipun saling bertukar kata.
“Nama saya Amelia. Tetapi ibu saya lebih suka panggil saya Lia” Amelia memperkenalkan dirinya kepada saya, selanjutnya saya memperkenalkan diri saya kepada Amelia.
Waktu itu saya agak telat masuk asrama karena bercerita lama dengan Amelia. Jujur saya ingin sekali bercerita lagi dengan Amelia.
Bila perlu saya habiskan sehari untuk bercerita segala sesuatu yang saya tahu dan yang Amelia tahu.
Sore itu Amelia menangis gara-gara jualanya hari ini tidak laris.
Ia harus membawa pulang beberapa bungkus kue kering yang disimpan dalam plastik sebagai sisa jualannya.
Terus terang saya ingin sekali memborong semua jualan Amelia, tetapi di dompet saya hanya tersisa selembar uang duapuluh ribu. Maklum saya ini anak asrama.
Tanpa pikir lama, saya langsung memberikan uang itu ke pada Amelia. Setelah itu Amelia memberikan empat plastik kue kering. Sejenak air mata Amelia jeda.
Ternyata waktu itu Amelia sedang menunggu Embun ibunya yang sudah dari tadi pagi pergi menjual kue ke arah Wae Mata.
Mereka telah bersepakat bahwa Amelia pergi menjual di SMP Negri di kota dan embun ibunya ke arah Wae Mata, nanti pulang mereka bertemu di lampu merah. Keluarga Amelia memang keluarga yang miskin.
Dulu waktu Amelia masih dalam kandungan, Embun ibunya selalu berjalan setiap pagi untuk menjual kue dan kacang tanah yang sudah menjadi tumpuan keluarga Amelia untuk bisa bertahan hidup di kota.
Nasib Amelia memang sudah begitu. Keluarganya bukan lagi keluarga miskin tetapi keluarga yang sangat miskin.
Waktu Amelia belia, ia tak pernah meneguk segalas susu atau menyantap sebungkus jajan. Apalagi menikmati resep makanan dari pihak kesehatan lima sehat empat sempurna.
Itu sangat liar dan jauh dari masa belia Amelia. Bahkan Amelia pernah mengalami gizi buruk. Waktu itu untung ada orang yang sangat baik dan membantu Amelia untuk berobat di salah satu apotek yang tereletak di depan alfamart kota.
Sekarang orang baik itu tidak pernah bertemu lagi dengan Amelia. Amelia berpikir ia telah berutang besar dengan orang baik itu.
Amelia selalu bermimpi agar segera bertemu dengan orang baik itu. Amelia akan menyampaikan terima kasih yang paling dalam dan dari hati yang terdalam.
Untuk sementara Amelia belum samaksekali bertemu bahkan melihat orang baik itu.
Ia hanya mendengar cerita dari Embun ibunya bahwa orang baik perawakan kecil dan kulit bening. Kata Embun ibunya, orang baik itu orang yang sangat kaya.
Amelia merasa aman dan bahagia bila berada di antara teman-temanya dibandingkan berada di antara kedua orang tuanya. Pernah Amelia tidak mau pulang rumah.
Di suatu senja, Amelia lebih memilih untuk tidur di rumah sahabatnya Tia. Itu memang cara Amelia untuk menemukan bahagia sekaligus berhenti sejenak dari masalah.
Selama ini Amelia memang sangat dekat dengan Tia dibandingkan anak-anak yang lain. Namun anak kecil seperti Tia, tidak dapat mengerti air mata yang selalu saja bocor dari kelopak mata Amelia. Apalagi masalah besar yang terkubur di telaga mata Amelia.
Tia tidak mengetahui apapun tentang itu. Yang Tia tahu Amelia adalah gadis cilik seperti dirinya, yang suka habiskan hari-hari untuk bermain-main.
Yang masih membutuhkan banyak perhatian, kasih, dan sayang dari banyak orang termasuk kedua orang tua mereka masing-masing.
Jujur waktu itu ketika saya bercerita dengan Amelia saya juga tidak sadar kalau mata saya ikut berkaca. Air mata sempat pecah, terbit seperti mata air.
Namun saya segera mengambil satu tisu yang masih tertinggal di saku depan celana saya. Saya berpura-pura menunjukan bibir yang senyum dan wajah bahagia supaya Amelia tidak sangka bahwa saya lemah.
Singkatnya saya tidak mau Amelia menangis. Selanjutnya saya akan menceritakan tentang kehidupan Amelia yang sempat kami bahas waktu itu di trotoar kota dekat lampu merah.
Supaya kau tahu bagaimana masalah besar yang Amelia rasakan. Supaya kau mengerti seberapa dalam Amelia memendam masalah. Anggap saja yang menuliskan cerita ini Amelia sendiri.
Setiap kali pulang rumah Amelia selalu saja dikejutkan dengan sesuatu yang tidak diduga-duga. Ayah dan ibunya selalu saja bertengkar.
Tidak peduli Amelia ada di sekitar mereka atau tidak. Pernah Amelia melihat Embun ibunya, dipukul dengan menggunakan kursi kayu oleh ayahnya.
Untung saja waktu itu Amelia dibawa lari oleh tetangganya. Semua orang di kompleks itu, tahu bagaimana keadaan keluarga Amelia.
Terkadang anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa meniru perilaku kedua orang tua Amelia di depan mata Amelia. Itu yang membuat Amelia menangis dan menangis.
Tia yang dekat dengan Amelia dan menganggap Amelia sebagai saudari sendiri selalu saja membela Amelia. Tia menguatkan Amelia untuk tidak menangis.
Untuk tidak bermain dengan anak-anak berandalan seperti itu. Tidak jarang Tia melaporkan semuanya itu ke bapa atau mama Tia. Selanjutnya kedua orang tua Tia yang akan urus bocah-bocah nakal seperti itu.
“Nana Gio, cukup sudah pulang malam terus. Cukup sudah judi online terus. Sampai kapan ite seperti ini? Ite harus mengerti bahwa di depan mata enu Lia akan duduk di bangku SD. Sekarang kita harus mempersiapkan segala perlengkapan sekolah Lia.
Kita harus segera membeli baju seragam sekolah, tas, sepatu dan lain sebaginya agar enu Lia bisa sekolah seperti anak-anak lain.
Kemarin saya sudah daftarkan enu Lia di SD yang terletak di dekat persimpangan jalan” Embun menasihati suaminya sambil mengaduk adonan kue di atas meja. “Dasar perempuan tida tahu diri.
Tahu kau kenapa saya sering judi-judian? Kenapa saya selalu pulang malam?” sambil membanting satu piring kaca layaknya piring orang miskin.
Kemudian ia melanjutkan “Supaya kau tahu ini akibat kau hamil muda. Ini akibat kau hamil di luar nikah. Ini akibat kau jadi perempuan yang biadap dan liar.
Perempuan yang tidak tahu jaga diri. Siapa suruh kau berikan diri kepada lelaki. Saya tidak pernah bermimpi punya istri miskin seperti kau. Kau jangan banyak bicara Embun!!!” lagi-lagi nana Gio membentak istrinya.
Embun hanya bisa menangis dan menangis sambil memutar adonan kue yang ia buat dari tadi. Matanya melotot dan badanya gemetar takut. Dalam diri ia merindukan hubungan mereka yang romantis saat pacaran dulu.
Mereka yang dulu saling sayang tanpa memikirkan sebab dan akibat. Betapa perihnya sakit dibilang biadap oleh suami sendiri.
Dibilang liar oleh suami sendiri. Dibilang tidak tahu diri oleh suami sendiri. Namun kenyataan memang sudah terjadi. Kita hanya bisa menerima.
Tidak bisa kompromi sedikit pun. Embun berusaha menyembunyikan masalah ini dari gadis ciliknya, Amelia.
Ia berharap Amelia tidak tahu sesuatu yang baru saja terjadi. Ia tidak mau gadis ciliknya turut merasakan apa yang ia rasakan.
Padahal tanpa ia sadari sudah dari tadi Amelia mengamati dirinya yang rintih menangis.
Itulah mengapa sekarang Amelia tidak mau sekolah. Ia tidak mau melihat kedua orangtuanya menangis gara-gara memikirkan tentang sekolah Amelia.
Bahkan sekarang Amelia lebih memilih untuk ikut bersama ibunya pergi jualan kue di sepanjang jalan kota ketimbang ia rapi-rapi pergi ke sekolah.
Amelia tidak peduli sudah beberapa kali ia menghabiskan hari di bawah teriknya matahari. Sekarang Amelia tinggal berdua bersama Embun ibunya.
Nana Gio, ayah Amelia sudah meninggalkan Amelia bersama dengan istrinya beberapa waktu yang lalu.
Kata Amelia, ia merasa aman dan bahagia ketika tinggal berdua bersama ibunya ketimbang dulu mereka tinggal bertiga.
Kalau kau melihat Amelia berjualan di dekat lampu merah lagi atau dimana saja kau melihat Amelia berjualan, sempatkan beberapa lembar isi dompetmu untuk menikmati barang jualan Amelia.

