Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Pelita Dalam Philips (Antologi Puisi Melkisedek Deni)
Sastra

Pelita Dalam Philips (Antologi Puisi Melkisedek Deni)

By Redaksi11 November 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-puisi Melkisedek Deni

Mahasiswa STFK-Ledalero tinggal di Unit Mikhael

 

Penebus Zaman Ini

Hasrat memang harus dibayar lunas

Bila tidak, kau ‘kan menjerit seumur waktu

Bila dibayar, boleh iya

Tidak sampai diadili

 

Hasrat memang harus dibayar cepat

Bila tidak, kau ‘kan mengutuk keadaan

Bila dikabul, boleh buat

Tidak sampai sebebas-bebas

 

Hasrat memang dilunas secepat

Bila tidak, kau ‘kan menghamili dusta

Bila diiya, boleh puas

Tidak sampai ditobat HIV/AIDS

 

Sungguh misinya sangat mulia,

Dan tuan atas segala virus penebusan.

 

Pelita Dalam Philips

“Kemana Kemerdekaan, Pak?”

Jeritan kaum kodok yang terbisu dalam tempurung.

Kami pernah lihat sepintas batang hidung kemerdekaan itu.

Mungkin mau promosi ‘saja’.

Kita lihat para zombie memangsa suara dan nafas bangsa

Tiada yang kenyang meski selalu dikenyangkan.

Sedang kita setia memupuk merdeka di bawah redep-redup alang pelita

Tak tentu dijual murah bermeterai ‘ilegal’.

 

Bila

Apa yang maha- dari siswa/i?

Bila melarikan diri dari maha-

Bila rajin mengandung kelaliman

Merampas keringat darah orangtua

Bila belajar bisnis ‘obral murah’

Belum paham istilah ‘gulung tikar’

 

Bila berusaha lelangkan aborsi

Bila air diganti dengan arak

Bila buat diri bak rumah modern.

 

Mabuk Di Oktober

Dalam barisan kata-kata kita

Tiada ruang tuk bersua rasa

Mesti seharusnya dilunas cepat

Tiada dedaunan lenyap di udara.

Kemarau bulan september,

Dilenyapkan segala niat tuk bermekar

Payung pemabuk rindu tertantang badai harapan

Kemarau bulan september,

Disejarahkan segala nyanyian doa tuk abadikan

Selimut pemeluk waktu berujar kurang ajar.

Kemarau bulan september,

Ditelan pori-pori bumi segala ucapan ‘kan satu atap payung nanti.

Segeralah tamat episode ini

 

Alaram 19:17

Dering itu,

Berlabuh di dermaga waktu.

Meneduh bi bawah payung terthabis itu.

Dengan apik rindu jadi sepermainan.

Kita terlampau asyik menari di atas kata-kata yang tiada keluh bercerita.

 

Pada dering nan polifoni,

Telah diabadikan payung tersucikan itu.

Entah dureng pun kemarau,

Tetalah dia dinggenggam erat.

Kita telah tercatat dalam angka mulia,

Berkidunglah tatkala dering mulai membangunkan kita.

***

Melkisedek Deni
Previous ArticleMahasiswa Permaporatim Kupang Jawab Tantangan Zaman lewat MPAB
Next Article KBM di SMKN 1 Kefamenanu Dihentikan Selama Tes CPNS

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.