LMND Eksekutif NTT dan Kota Kupang saat menggelar aksi peringati IWD di depan Kampus Undana-Penfui Kupang. (Foto: Ronis/Vox NTT).

Kupang, Vox NTT- Liga Mahasiswa untuk Demokrasi Eksekutif NTT dan Kupang hari ini, Jumat 08 Maret 2019 Menggelar aksi hari perempuan Internasional atau Woman International Day (IWD).

Aksi ini digelar di depan gerbang Kampus Universitas Nusa Cendana, Jalan Adisucipto-Penfui Kupang.

Selain mengecam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan secara Internasional dan di Indonesia, LMND Eksekutif NTT juga mengecam kekerasan psikis yang dialami oleh perempuan dalam menolak tambak garam maupun perusahaan lainnya yang terjadi di Desa Ponu, Timor Tengah Utara (TTU) dan Desa Mota’ain Kabupaten Malaka.

Tak hanya itu, aksi LMND juga menyentil soal kasus perselingkuhan Dosen dan mahasiswi yang terjadi beberapa waktu lalu di Kampus Politeknik Negeri Kupang.

Yuliance Rina Halundaka, Koordinator aksi, kepada VoxNtt.com usai aksi digelar menyampaikan, terkhusus kasus perselingkuhan Dosen dan mahasiswi yang baru saja terjadi, perempuan-perempuan NTT tidak boleh terlalu berlebihan menyoroti perempuan.

“Kita sebagai perempuan NTT, jangan terlalu berlebihan menlontarkan kutukan dan kata-kata kasar terhadap perempuan itu. Seharusnya kita ketahui dulu sumber dan kronologis kejadian secara jelas,” tegas Yuliance.

Lanjut dia, amat disayangkan dari kejadian itu dimana mahasiswi yang terlibat perselingkuhan sudah tidak melanjutkan kuliahnya lagi. Sementara sang Dosen masih terlihat aktif mengajar.

“Kan tidak adil. Ini diskriminasi. Dosennya tetap mengajar sedangkan mahasiswinya sudah tidak lanjut kuliah lagi,” lanjut dia.

Selain itu, konteks politik. LMND juga menganggap kuota 30% sebagai bentuk ketidakadilan bagi perempuan. Menurut mereka, harus ada kesetaraan dengan memposisikan peluang laki-laki sama dengan perempuan.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Boni J