Antonius Tamat (Photo by Sandy Hayon/ Vox NTT)

Borong, Vox NTT-Mimpinya kian terpatri. Ia menembus kebisingan kota, rela dipanggang terik dan api. Sekalipun usianya kian menua.

Ia tak tahu kapan ia terlahir. Namun ia pria “bernyali” menapaki kerasnya kehidupan ibu kota. Ia memiliki harapan.

Seperti biasanya, Antonius Tamat, bekerja membelah batu di pinggiran jalan menuju Lehong, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores NTT.

Saat ditemui VoxNtt.com, Kamis (14/3/2019) sore, Antonius tengah membakar batu-batu yang berukuran besar.

Saat itu ia tampak berbeda. Ia melempar senyum. “Ho’o di cumang kole e pak (Sekarang baru ketemu lagi pak),” ucapnya sembari berjabat tangan.

Ia pun membuka dialog. Ia bercerita tentang masa mudanya, hingga ditinggal pergi sang istri tercinta, Juliana Nusu.

Juliana meninggal pada dua tahun lalu lantaran penyakit yang diderita.

Bahtera rumah tangga yang dibangun keduanya pun pupuslah sudah.

Antonius kini menduda. Menjajaki hidup tanpa belaian sang istri tercinta. Sudah dua tahun lamanya. Namun, ia belum kuat untuk melepas setiap kisah yang dilaluinya bersama Juliana.

Pahit dan manisnya kenangan kian membekas dalam ingatannya.

“Saya tidak bisa melupakannya pak,” imbuh pria yang akrab disapa Anton itu.

Cerita tentang Juliana, nyaris membuatnya meneteskan air mata. Raut wajahnya berubah seketika. Tatapan kematian seolah tergambar dari wajahnya.

Tapi tak apalah, itulah kehidupan. Hanyalah sementara waktu.
“Semua sudah Tuhan yang atur,” ujar Anton.

Walau demikian, dalam hati kecilnya ternyata ia memiliki mimpi yang besar untuk menamatkan pendidikan kedua buah hati.

Anton memiliki tujuh orang anak. Empat anaknya sudah bersuami, satunya merantau dan dua orang lainnya sedang sekolah.

Keduanya kini, sedang mengeyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Borong.

Kendati demikian, kisah getir yang ia alami tak membuatnya gentar untuk terus berjuang.

Baca Juga: Kisah Antonius Si Pembelah Batu dari Manggarai Timur

Susahnya membelah batu tak pernah mengurungkan niatnya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga dan masa depan kedua anaknya itu.

Nafkah dan orientasi pendidikan anak menjadi pijakan dari kerja kerasnya kini.

Tak ada pilihan lain. Satu-satunya kerja yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah adalah membelah batu-batu itu.

Baca Juga: Anton’s Story, the Stone Splitter from East Manggarai

“Kerja apalagi e..pak ini sudah pekerjaan saya,” ucapnya.

Walau usia sudah lebih dari 70 tahun, ia tak mau mimpinya hanya sebatas angan, fiksi, ataupun narasi belaka.

Rumah milik Antonius Tamat (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

“Saya harus sekolahkan mereka hingga tamat,” imbuhnya dengan tegas.

Antonius masih punya harapan, namun ia tak muda lagi. Tenaganya sudah terkuras habis. Usianya sudah tidak produktif lagi. Masa tuanya dihabiskan di pinggir jalan itu.

Ketika ia telah pergi, ia menitipkan pesan kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk memperhatikan kedua buah hatinya kelak.

Tolong ew pak perhati koe ise cepisa (Tolong pak perhatikan mereka kelak),” ujarnya dengan nada pelan.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba