Ketua Panitia, Elcid Li beserta Peneliti IRGSC, Akademisi dan Bappelitbangda NTT saat jumpa pers, Senin (02/11/2019) di Kantor IRGSC. (Foto: Ronis Natom).
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Kurang lebih 80 orang yang terdiri dari peneliti, akademisi, birokrat dan aktivis dari berbagai daerah di Indonesia akan dilibatkan dalam konferensi tahunan keadilan sosial yang biasa disebut Annual Conference on sosial justice (ACSJ) tahun 2019 akan dipertemukan di Kupang tanggal 4—5 Desember 2019.

Sebagai konferensi kali ketiga, merupakan kegiatan tetap dari ISJN (Indonesia Sosial Jutice Network). ISJN sendiri merupakan jaringan para penerima beasiswa Ford Foundation di Indonesia yang terdiri dari kalangan aktivsis, peneliti dan akademisi yang fokus pada issu keadilan sosial.

Elcid Li, Ketua Panitia pelaksana, dalam jumpa pers pada Senin (02/12/2019) siang menjelaskan, Kota Kupang dipilih sebagai tuan rumah karena mengingat, Papua yang sebelumnya diwacanakan sebagai tuan rumah memiliki keadaan sosial politik yang belum pulih pasca kerusuhan.

Elcid Li menjelaskan, tema besar yang diambil adalah ‘Memikirkan Ulang Pembagunan yang Berkeadilan Sosial dan Berperikemanusiaan’.

“Kali ini prioritas investasi, karena merupakan aspek kemanusiaan dan keadilan sosial yang menjadi dasar bernegara. Presiden Jokowi juga saat ini kita liat lebih getol terhadap pembangunan ekonomi demi memajukan masyarakat bangsa Indonesia. kita tidak anti investasi tetapi bagaimana persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial yang menjadi dasar negara tidak serta merta hilang ketika invetsasi menjadi prioritas pertama pemerintah,” ujar Elcid Li.

Dia juga menjelaskan, pembicara yang dihadirkan dalam konferensi yang akan digelar di Neo Aston Hotel Kupang sebanyak 14 orang dengan topik yakni, isu-isu pembangunan bersifat nasional secara panel.

Menurutnya, konferensi kali ini ACSJ bekerja sama dengan Institute Of Resource Governance and sosial Changce (IRGSC), badan penelitian dan Pengembangan daerah (Bappelitbangda) NTT dan Universitas Widya Mandira Kupang.

“Unika Kali ini dipilih karena kami lebih mempertimbangkan universitas swasta. Selama ini kan yang sering dipakai adalah universitas negeri, jadi kali ini universitas swasta,” ujar dia.

Panitia Pelaksana juga menghimbau bagi peserta yang ingin menghadiri konferensi ini agar bisa menghubungi panitia, sebnyak 50 peserta akan ditiadakan uang pendaftaran. Sedangkan pendaftar dengan nomor urut di atas 50 akan dikenakan biaya konsumsi secara pribadi.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Boni J

alterntif text