Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Banyak Siswa Kelas Tinggi SD Belum Bisa Baca, Ini Langkah Pemda Belu
Pendidikan NTT

Banyak Siswa Kelas Tinggi SD Belum Bisa Baca, Ini Langkah Pemda Belu

By Redaksi24 Februari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (spiritnews.co.id).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua, Vox NTT-Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Belu, Johni R. Mali angkat bicara terkait banyak siswa kelas tinggi pada SD dan bahkan ada siswa SMP yang belum bisa membaca.

Dihubungi VoxNtt.com di Atambua, Senin (24/02/2020), Johni menyampaikan, sebagai kepala Dinas, dirinya telah memberikan instruksi kepada semua kepala sekolah SD dan SMP di Kabupaten Belu untuk mendata di masing-masing sekolah, terkait siswa yang belum bisa membaca.

Terkait temuan itu, ada beberapa langkah yang menurut Johni segera dilakukan pihaknya bersama seluruh kepala sekolah SD dan SMP di Kabupaten Belu.

Pertama, kepada para kepala sekolah SD dan SMP, Johni sudah memberikan instruksi agar semua kepala sekolah segera melakukan identifikasi siswa-siswi kelas tinggi yang belum bisa membaca.

Langkah yang kedua, menurut Johni, terhadap anak-anak yang teridentifikasi belum bisa membaca harus diberi bimbingan dan layanan khusus.

Sekolah diinstruksikan untuk bekerja sama dengan orang tua dalam melakukan bimbingan khusus karena siswa yang tidak bisa membaca, tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas.

Karena itu, secara psikologi anak-anak yang belum bisa membaca akan merasa minder dan malu dengan teman-teman di kelas, sehingga terhadap anak-anak yang belum bisa membaca harus diberi bimbingan dan perlakuan khusus.

Baca Juga: Di Belu Ada Siswa Kelas Tinggi SD Belum Bisa Membaca

Ia menambahkan, bisa saja anak-anak yang belum bisa membaca ini sedang mengalami disleksia/gangguan belajar sehingga memerlukan penanganan khusus.

Sebagai kepala Dinas, Johni  akan segera melakukan supervisi di setiap sekolah untuk memastikan  proses penanganannya bisa berjalan maksimal.

Melalui langkah-langkah ini diharapkan dapat meminimalisir jumlah siswa kelas tinggi dan siswa SMP di Belu yang belum bisa membaca.

“Paling tidak setiap kepala sekolah harus tahu, siapa-siapa di kelas yang belum bisa membaca. Siswa kelas tinggi di sekolahnya ada berapa yang belum bisa membaca harus diketahui persis oleh kepala sekolah bersangkutan. Setelah itu, perlu ada langkah khusus yang diambil kepala sekolah,” terang Johni melalui sambungan telpon seluler, Senin (24/02/2020).

Ia menambahkan, seharusnya apabila ada siswa yang belum bisa membaca, siswa yang bersangkutan mestinya tidak berada di dalam kelas.

Mereka harus ditangani khusus untuk dilatih membaca sampai bisa membaca.

Baca Juga: Wanita Asal Matim Lolos dari Cengkraman Penjual Manusia, Begini Modus Pelaku

Setelah dilakukan identifikasi, pihak sekolah akan bekerja sama dengan orang tua agar orang tua dari setiap siswa yang belum bisa membaca tahu dan ikut mendampingi anaknya agar bisa dilatih hingga mampu membaca.

“Dalam satu dua hari ini, saya akan segera keluarkan surat edaran. Dan saya akan lakukan supervisi di sekolah-sekolah untuk melihat sejauh mana tindak lanjut dari sekolah terhadap instruksi dan surat edaran yang kita berikan. Kita kasih kesempatan kepala sekolah untuk melakukan tindakan. Setelah itu, pada akhir Maret, kita akan turun melakukan supervisi di setiap sekolah,” tutup Johni.

Penulis: Marcel Manek

Editor: Boni J

Belu Johni R. Mali
Previous ArticleLahir Tanpa Lubang Anus, Bocah Ini Hampir Putus Sekolah Lantaran Dibully
Next Article SP Online Harus Berdampak Riil Turunkan Kemiskinan di NTT

Related Posts

SDN Cipedak 01 dan SMP IL Kapten Fatubaa Wakili Indonesia di Ajang AIA Healthiest Schools Asia Pasifik 2026

2 Juni 2026

“Dari Benih ke Pohon”, SMK Negeri 3 Komodo Terus Tumbuh di Usia yang ke-6 Tahun

21 Mei 2026

Bedah Buku “Gigih” Warnai Puncak Expo Pendidikan Manggarai Timur

11 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.