Robi dalam keadaan kaki terpasung. (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
alterntif text

Borong, Vox NTT-Sehelai kain putih yang kusam, kumat pula, membalut tubuhnya.

Ia tinggal di sebuah gubuk reyot, kotor, keropos dan nyaris roboh di samping rumahnya.

Tempat tidurnya beralaskan papan. Begitu pula dindingnya. Tapi sudah rusak dan berlubang. Lubang-lubang itu ditutupi dengan sehelai kain yang sudah usang. Gubuk itu beratap seng.

Kendati demikian, di tempat itu Robi menghabiskan waktu dalam keadaan tak berdaya. Makan, minum, berkhayal, buang air kecil, buang air besar, ia lewati.

Kakinya diapiti dua kayu balok besar. Sudah lima tahun lamanya ia menjalani kehidupan dalam keadaan terpasung.

Robi sudah berusia 30 tahun. Ia putra pertama dari pasangan Alosius Lumpur (53) dan Edeltrudis Adul umur (49).

Mereka tinggal di Kampung Maras Desa Golo Loni, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim)-Flores, Provinsi NTT.

Ia menderita skizofrenia.Penyakit ini muncul akibat adanya ketidakseimbangan kadar dopamin dan serotonin dalam otak.

Saat otak terganggu, berbagai gejala seperti delusi, halusinasi, cara bicara dan perilaku yang tidak teratur akan bermunculan.

Pernah Dirawat

Sejak umur 16 tahun, Robi merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di kota yang dijuluki Seribu Sungai itu pun ia menghabiskan waktu dua tahun lamanya.

Namun, sepulang dari perantauan itu ia pun mulai mununjukkan gelagat yang aneh. Robi membuat keluarganya takut. Ia sering onar dan marah-marah.

“Memang dia tidak pukul atau ganggu tapi dia sering bating-banting di sini,” ucap sang ayah Alosius Lumpur saat ditemui VoxNtt.com, Senin (01/06/2020).

Luapan emosi Robi membuat keluarga pun mengambil sikap secara terpaksa. Ia harus dipasung. “Tidak ada pilihan lain waktu itu,” ucap sang ayah.

Pada tahun 2016 lalu, keluarga pun memutuskan untuk membawa Robi ke Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa Renceng Mose, salah satu fasilitas kesehatan yang ada di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Panti ini didirikan oleh para bruder dari Kongregasi Karitas (FC).

Baca Juga: Ketulusan Ene Ester: 20 Tahun Merawat Putranya dalam Pasungan

Di sana ia dirawat. Robi pun sembuh, ia kembali ke kampung halaman. Bak angin segar bagi keluarga. Mereka senang dan bahagia melihat putranya sudah kembali.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Rupanya hanya seumur jagung. Robi kambuh dari sakitnya. Ia menatap keluarganya penuh kebencian. Ia kembali berulah. Entah apa alasannya.

Baca Juga: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

“Waktu dirawat di Renceng Mose dia sehat tetapi kami tidak tahu kenapa disakit lagi. Terpksa kami pasung,” ucap Edeltrudis.

Saat itu keluarga ingin mengantar Robi kembali ke panti. Namun, lilitan ekonomi yang menghimpit kehidupan mereka, Robi pun harus kembali dipasung.

Gubuk tempat Robi dipasung. (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Apalagi ketiga anaknya tengah mengenyam pendidikan.

Suatu ketika kisah Edeltrudis, Robi pernah didatangi oleh seorang Pastor Namanya Aven Saur. Kala itu Pastor Aven memberikan penguatan juga obat untuk kesembuhan Robi. Namun, obatnya sudah habis.

“Kalau minum obat malam harinya aman. Sekarang dia (Robi) minta terus obat. Tetapi obatnya sudah habis,” tukasnya.

Tidak Pernah Disentuh Pemerintah

Semenjak 5 tahun dipasung Robi belum penah dikunjungi. Apalagi mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Padahal sakit yang dideritanya sudah sangat lama. Ekonomi orangtuanya pun pas-pasan. Rumah mereka juga sudah reyot. Bedidinding gedek, beralaskan tanah.

Baca Juga: Hidup Sebatang Kara, Petronela Luput dari Perhatian Pemerintah

Walau demikian, Aloisius dan Edeltrudis sangat tabah. Mereka bertahan walau tanpa sentuhan. Mereka begitu tulus merawat sang buah hati, juga menyekolahkan anak-anaknya.

Reweng dami, ho’o mose dami ro’eng agu anak daku (suara kami, beginilah kehidupan kami sebagai rakyat dan anak saya),” ucap Alosius dengan bahasa daerah Manggarai.

Di balik penderitaan itu. Pasutri ini pun berharap semoga mendapat perhatian dari pemerintah.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba