Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»469 Babi di Ende Mati, Masyarakat Diminta Waspada Virus ASF
KESEHATAN

469 Babi di Ende Mati, Masyarakat Diminta Waspada Virus ASF

By Redaksi15 Juli 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Ende, Marianus Alexander saat menjelaskan tentang virus ASF di Ende (Foto : Ian Bala/VoxNTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Marianus Alexander menyebutkan 469 babi di wilayah setempat mati akibat serangan virus African Swine Ferer (ASF). 

Kecamatan Maukaro tercatat pada angka tertinggi berdasarkan rekapitulasi petugas pusat kesehatan hewan. Kemudian disusul kecamatan dalam kota, Kecamatan Ndona, Kecamatan Detusoko dan beberapa kecamatan lainnya.

“Gejalanya memang sudah menciri ke virus ASF. Karena ciri-ciri itu seperti demam, tidak mau makan, ada cairan yang keluar dari dubur dan ada beberapa yang keluar dari mulut dan hidungnya,” kata Alexander saat acara Launching Kampung Tangguh Nanganesa, Kecamatan Ndona pada Rabu (15/07/2020) pagi.

Untuk memastikan penyebab kematian, pemerintah kini sedang menunggu hasil uji laboratorium berdasarkan sampel yang dikirim. Setelah itu, proses pencegahan akan diperketat agar penyebaran virus tidak meluas.

Namun begitu, kata Alexander, para peternak diimbau untuk menerapkan sistem bio security atau tata cara sanitasi yang baik.

“Kan ada dua penyebab yang kita duga seperti colera dan virus ASF. Tapi kita tunggu dulu hasil lab-nya bagaimana. Tapi kalau sesuai ciri-cirinya memang sudah menjurus ke ASF,” tutur dia.

Alexander mengimbau kepada masyarakat Kabupaten Ende agar tidak mengkonsumsi daging babi yang telah mati meski tidak zoonosis.

Sebaliknya, warga diimbau agar mengubur babi apabila mati dengan memiliki gejala-gejala tersebut.

“Memang tidak menular ke manusia, tetapi secara ekonomi dirugikan karena jumlah kematian sangat besar dalam sesaat,” katanya.

“Jadi disarankan tidak konsumsi, karena limbah itu akan menjadi penyebar,” sambung Alexander.

Dalam pemeliharaan ternak, terang dia, harus diperhatikan tiga hal pokok yakni sistem pengelolaan pakan, kesehatan dan pengelolaan kandang.

Sedangkan untuk mencegah penyebaran ASF di Ende, Bupati Djafar telah mengeluarkan instruksi larangan sejak Februari tentang perpindahan ternak dari daerah satu ke daerah lainnya.

Penulis : Ian Bala

Editor: Irvan K

Ende Virus ASF
Previous ArticlePerkuat Sistem Keamanan Pilkada, Kapolres TTU Temui Pimpinan Parpol
Next Article Bupati Malaka Dipanggil DPP Partai Demokrat

Related Posts

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Kompak Indonesia Desak Jaksa Agung Ambil Alih Dugaan Korupsi Rp49,8 Miliar di Ende

8 Juli 2026

Kasus Kekerasan Anak di Manggarai Timur Masih Tinggi, Pemkab Siapkan Kanal “Pro-Puan Matim”

20 Mei 2026
Terkini

158 Rumah di Kecamatan Welak Rusak Berat Akibat Gempa

15 Agustus 2026

Pengungsi Mandiri di Pesisir Utara Nagekeo Terlantar, Kekurangan Air dan Logistik

15 Agustus 2026

Keuskupan Ruteng Imbau Misa Minggu Digelar di Tempat Aman Pascagempa

15 Agustus 2026

Pemprov NTT Fokus Evakuasi dan Selamatkan Korban Gempa Flores

15 Agustus 2026

Pasutri di Wae Ri’i Tewas Tertimpa Tembok Rumah Akibat Gempa

15 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.