Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Kejari TTU Ungkap 6 Kasus Korupsi Dana Desa
HUKUM DAN KEAMANAN

Kejari TTU Ungkap 6 Kasus Korupsi Dana Desa

By Redaksi24 Oktober 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kajari TTU Robert Jimmy Lambila saat ditemui wartawan di ruang kerjanya beberapa waktu lalu (Foto: Eman Tabean/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu, Vox NTT- Dalam 8 bulan terakhir, Kejaksaan Negeri Timor Tengah Utara (TTU) berhasil mengungkap 6 kasus dugaan korupsi dana desa.

Enam kasus dugaan korupsi dana desa yang ditangani Kejari TTU di antaranya; dana desa Naikake B, Botof, Birunatun, Letneo Selatan, Banain B dan desa Makun.

Dari 6 kasus tersebut, 4 di antaranya yakni kasus dana desa Botof, Naikake B, Letneo Selatan dan Birunatun sudah sampai tahap persidangan.

Sedangkan kasus dana desa Banain B dan Makun saat ini dalam proses perampungan berkas untuk segera dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Kupang.

Sementara satu kasus dugaan korupsi yang sementara ditangani Polres TTU yakni terkait pengelolaan dana desa Akomi.

Kajari TTU Robert Jimmy Lambila menegaskan, dasarnya dana desa dikucurkan oleh pemerintah pusat untuk dipergunakan demi peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa secara keseluruhan, bukan hanya untuk kepentingan oknum tertentu.

Sehingga menurut dia, para pengelola harus benar-benar memahami dan bekerja sepenuh hati demi kepentingan masyarakat di desa tersebut.

“Kalau hati yang melayani itu tidak ada maka yang ada hanya kepentingan pribadi dan itulah awal kehancuran baik bagi pembangunan di dalam desa maupun dia sendiri (pengelola dana) karena kalau dia diperiksa dan tidak dapat dipertanggungjawabkan maka sudah tentu punya konsekuensi hukum,” tegas Kajari Robert saat ditemui VoxNtt.com di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu

Robert pada kesempatan itu juga secara terbuka menyampaikan modus yang digunakan oleh oknum dalam melakukan tindak pidana Korupsi dalam pengelolaan dana desa.

Sejumlah modus yang dipakai di antaranya membuat laporan pertanggungjawaban fiktif pada program kegiatan yang diketahui fiktif, dan terdapat proyek yang tidak sesuai dengan spek namun tetap dipaksakan untuk dibayarkan.

Selain itu, terdapat juga kepala desa yang langsung sendiri bertindak sebagai supplier untuk mengelola program kegiatan yang dianggarkan dari dana desa. Padahal Undang-undang secara tegas telah melarang hal tersebut.

“Ada juga penggelapan, ada juga pemalsuan terhadap bukti-bukti pertanggungjawaban, itu semua merupakan tindak pidana,” tegasnya.

Kajari Robert pada kesempatan yang sama meminta para pengelola dana desa untuk tidak segan-segan meminta masukan ke pihak lain bila diperlukan.

Pihak lain yang dimaksudkan seperti kejaksaan, polisi atau pun Inspektorat dan DPMD. Hal ini tentu saja penting agar kebijakan yang dilakukan dalam pengelolaan dana desa tidak berpotensi melanggar hukum.

“Penegakan hukum yang kami lakukan ini merupakan bentuk tanggung jawab kami dalam mendukung pelaksanaan pembangunan di dalam desa,” ujarnya.

BPD Diminta Berperan Aktif Mengontrol

Kajari Robert pada kesempatan itu juga meminta ketua dan anggota BPD untuk berperan aktif dalam mengontrol pelaksanaan seluruh kegiatan pembangunan di dalam desa. Sehingga diharapkan kesalahan yang ada tidak dibiarkan berlarut-larut.

“Jangan sudah 3 atau 4 tahun barulah BPD membuat laporan ke kejaksaan, polisi dan juga ke bupati, lalu kerjanya dia (BPD) apa selama ini? Pengawasan itu harus dilakukan secara terus-menerus,” tegasnya.

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba

dana desa Kejari TTU Korupsi Dana Desa TTU
Previous ArticleBonus Demografi, Kuasa dan Demokrasi di Era Milenial
Next Article Dugaan Pencemaran Nama Baik: Wartawan di Rote Ndao Polisikan Kades, Babinkamtibmas dan Dua Oknum

Related Posts

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak Jaksa Agung Ambil Alih Dugaan Korupsi Rp49,8 Miliar di Ende

8 Juli 2026

Satreskrim Polres Mabar Selesaikan Kasus Penipuan Wisatawan Malaysia lewat Restorative Justice

1 Juli 2026
Terkini

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026

Jelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati

13 Juli 2026

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.