Oleh: Abe
SMAN 3 Cibal
Di reruntuhan kota yang megap-megap pilu
Pandemi pergi meninggalkan luka menganga tak sembuh
Rumah sakit penuh, mimpi remuk di trotoar sepi
Ekonomi ambruk bagai batu karang retak terbelah
Pekerja menganggur, anak lapar menatap langit kelabu
Umat terbelah oleh berita hoaks dan amarah membara di layar ponsel.
Tapi lihatlah, pagi kelabu mulai retak perlahan
Seperti batu kubur yang berguling pelan oleh tangan ilahi
Kristus bangkit dari kain kafan dingin dan gelap pekat
Cahaya-Nya menusuk kegelapan menghangatkan jiwa yang beku
Murid-murid gemetar, tapi iman mereka menyala kembali
Hidup baru lahir dari kematian, janji abadi yang tak tergoyahkan.
Kita, yang lelah oleh berita duka harian tanpa henti
Dari Bali tropis hingga ujung dunia yang haus damai sejati
Bangkitlah dari ranjang penyakit dan meja tagihan menumpuk
Lepaskan rantai ketakutan lama polarisasi yang memecah saudara
Dalam himne pagi, suara kita bergema menyatu
Kebangkitan memanggil kita melangkah, meninggalkan bayang masa lalu.
Dalam doa bersama di bawah pohon beringin usang
Tangan terulur dari kaya ke miskin, dari kota ke desa terpencil
Meja roti pecah dibagi, air mata kering oleh kasih yang melimpah,
Anak-anak tertawa lagi, pasar ramai dengan lagu dagang riang
Kristus hadir di setiap senyum yang pulih dari luka pandemi,
Masyarakat bangkit, jalinan persaudaraan tak lagi rapuh.
Ya Tuhan yang bangkit dari kubur sunyi dan sepi
Hidupkan jiwa kami yang terpuruk di lembah bayang gelap
Di era badai digital dan badai alam yang ganas
Jadikan kita saksi cahaya-Mu yang tak pernah padam
Dari abu krisis, bunga harapan mekar subur dan indah,
Hidup kekal, selamanya tak terkalahkan, amin

