Labuan Bajo, VoxNTT.com – Kebijakan pembatasan jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi maksimal 1.000 orang per hari dinilai dapat mendorong peningkatan lama tinggal wisatawan di Labuan Bajo sekaligus memberi dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat lokal.
Kebijakan tersebut diberlakukan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mulai Selasa, 14 April 2026, sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan konservasi yang menjadi habitat komodo dan ruang hidup masyarakat setempat.
Pembatasan berlaku di tiga destinasi utama, yakni Pulau Padar, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo. Selain itu, aturan serupa juga diterapkan pada aktivitas wisata di 23 titik penyelaman di sekitar kawasan kepulauan tersebut.
Pelaku pariwisata Labuan Bajo, Matheus Siagian menilai kebijakan kuota tidak seharusnya langsung ditolak. Menurut dia, pembatasan justru dapat menjadi momentum menata ulang pola wisata massal yang selama ini berkembang di TNK.
“Berbeda dengan tanggapan pelaku pariwisata yang lain, saya berpendapat bahwa pembatasan ada baiknya. Dan sebaiknya pengaturan yang baik itu diperlukan,” kata Matheus pada Jumat, 17 April 2026.
Ia menyoroti praktik penjualan paket wisata satu hari yang memungkinkan wisatawan mengunjungi banyak lokasi sekaligus menggunakan speedboat.
Dalam satu paket, wisatawan disebut bisa mengunjungi Padar, Pink Beach, Pulau Komodo, Manta Point, lokasi snorkeling, hingga spot melihat kalong.
Menurut Matheus, pola wisata seperti itu membuat wisatawan tidak perlu tinggal lama di Labuan Bajo karena seluruh destinasi utama dapat dikunjungi dalam sehari.
“Apakah ini menguntungkan? Saya bisa bilang ini merugikan semua orang. Karena lama orang stay di Labuan Bajo akan berkurang. Dengan penuh keyakinan saya bisa bilang hal ini, karena buat apa saya di Labuan Bajo lebih dari tiga hari? Kalau saya bisa melihat semuanya dalam satu hari?” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut berimbas pada pendapatan pelaku UMKM, hotel, restoran, hingga pemerataan manfaat ekonomi pariwisata di daratan Labuan Bajo.
“Ayo kalau seperti ini siapa yang rugi? Penjual UMKM less time stay kemungkinan sales berkurang, hotel stay-nya berkurang, di darat Labuan Bajo visitor berkurang, redistribusi kue pariwisata juga kurang pemerataannya,” katanya.
Selain aspek ekonomi, Matheus juga menyoroti dampak lingkungan akibat penumpukan wisatawan dan kapal di sejumlah titik favorit wisata.
Menurut dia, kondisi itu memicu penumpukan sampah, kerusakan alam, hingga pencemaran laut dari oli mesin dan bahan bakar kapal.
“Dan manusia menumpuk di satu titik, meninggalkan sampah, kerusakan alam. Bahkan kapal menumpuk di satu titik mengakibatkan pencemaran lingkungan dan juga air tercemar oli mesin, bensin, sampah dan lain-lain,” ujarnya.
Ia mengusulkan agar pembatasan diterapkan lebih rinci, yakni maksimal 500 pengunjung per titik setiap hari dalam dua sesi, pagi dan sore. Selain itu, setiap wisatawan hanya diperbolehkan membeli akses ke dua titik kunjungan per hari.
“Per orang hanya boleh beli dua titik per hari. Sehingga kalau dia hanya tiga hari di Labuan Bajo dia tidak akan bisa lihat semuanya. Sehingga untuk lihat semuanya dia harus datang lagi kali berikutnya,” katanya.
Menurut Matheus, skema tersebut akan memberi keuntungan ganda karena wisatawan memiliki pengalaman yang lebih nyaman, alam tetap terjaga, polusi berkurang, dan lama tinggal wisatawan meningkat.
“Tamu tidak kecewa, alam tidak berat menanggung beban pariwisata, polusi bisa di minimalisasi. Pendapatan UMKM meningkat, redistribusi kue pariwisata semakin adil, length of stay meningkat, hotel dan restoran untung. Pariwisata bisa makin berkembang,” ujarnya.
Ia berharap kebijakan kuota menjadi kesempatan emas bagi pemerintah daerah, Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun tata kelola pariwisata yang lebih berkelanjutan.
“Pinta saya jangan langsung tolak mentah mentah, stop sejenak. Pikirkan baik-baik, lalu mari bersama berikan masukan agar taman nasional kita bisa jadi spot yang lebih baik, dan bisa tetap lestari sampai anak cucu kita, bukan diobral dan hancur satu generasi saja,” katanya. [VoN]

