Mbay, VoxNTT.com – Sebanyak 126 mahasiswa Politeknik St. Wilhelmus Boawae, Kabupaten Nagekeo, resmi diwisuda pada Senin, 29 September 2025.
Acara wisuda angkatan ke-17 ini berlangsung meriah di halaman kampus dan menjadi momen wisuda dengan peserta terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan wisuda di institusi tersebut.
Sejumlah tamu penting turut menghadiri acara tersebut di antaranya Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada, anggota DPRD Nagekeo Anto Sukadame Wangge dan Wenseslaus Mane, serta Ketua Yayasan St. Wilhelmus Boawae, Wiliam Yani Wea.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Gonzalo menyampaikan bahwa meski Nagekeo masih berada dalam suasana duka akibat banjir bandang yang menerjang Kecamatan Mauponggo, momen wisuda tetap patut disyukuri.
Menurutnya, kehadiran Politeknik St. Wilhelmus Boawae telah memberi kontribusi besar dalam mencetak lulusan yang tergolong ahli di bidang pertanian dan peternakan.
“Integrasi vokasi pertanian menjadi langkah awal yang baik menuju kemandirian pangan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Nagekeo bertekad menjadikan Politeknik St. Wilhelmus Boawae sebagai mitra strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan dan pengembangan ekonomi kreatif,” ujar Gonzalo.
Ia juga menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang akan banyak menggantikan tenaga manusia dalam 10–15 tahun mendatang. Namun, menurutnya, peran petani, peternak, dan sektor pelayanan tetap tidak bisa tergantikan.
“Di sinilah Politeknik memiliki masa depan, karena membekali generasi muda dengan keahlian terutama pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan St. Wilhelmus Boawae, Wiliam Yani Wea menekankan bahwa jumlah wisudawan terbanyak tahun ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah melalui program PIP (Program Indonesia Pintar).
Ia berharap, ke depan program tersebut lebih diprioritaskan untuk wilayah-wilayah timur, khususnya Flores, guna membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang masih terbatas secara ekonomi.
“Harapan saya, pemerintah pusat memberikan perhatian khusus kepada kampus-kampus di luar Pulau Jawa. Di Jawa, perguruan tinggi sudah cukup mandiri secara finansial. Sementara di wilayah timur, bantuan seperti PIP sangat menentukan keberlanjutan pendidikan anak-anak,” tegasnya.
Selain itu, Wiliam juga mendorong agar dana CSR perusahaan lebih diarahkan ke institusi pendidikan yang secara langsung membentuk kualitas sumber daya manusia.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

