Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Warga Matim Protes Proyek Jalan Inpres, Volume Pekerjaan Dinilai Tak Sesuai Sosialisasi
Regional NTT

Warga Matim Protes Proyek Jalan Inpres, Volume Pekerjaan Dinilai Tak Sesuai Sosialisasi

By Redaksi12 Desember 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Papan informasi proyek jalan Inpres di Jalur Kisol-Mok-Paan Leleng Mukun Manggarai Timur (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Proyek Jalan Inpres di jalur Kisol–Mok–Paan Leleng–Mukun, Kabupaten Manggarai Timur, memantik protes dari warga.

Mereka menilai volume pekerjaan yang tengah dikerjakan tidak sesuai dengan informasi awal saat sosialisasi.

Pada tahap sosialisasi, warga diberi tahu bahwa konstruksi lapen akan dibangun sepanjang 3,5 kilometer. Namun ketika pekerjaan dimulai, panjangnya hanya 2,5 kilometer.

“Kami di kampung ini memang mengeluh jalan yang rusak. Memang barangkali ada di daerah lain yang lebih parah. Beberapa waktu lalu kami dengar kabar, juga disampaikan oleh kepala desa kalau pekerjaan jalan itu sejauh 3,5 kilometer,” kata Mikael, warga Desa Lembur, kepada VoxNtt.com, Kamis, 12 Desember 2025.

Ia menjelaskan panjang 3,5 kilometer itu akan menutup hampir seluruh ruas yang kategori rusak parah di Pandu dan Kalang Gurung.

“Kalau seluas itu maka hampir 90 persen jalan di sini yang rusak parah akan diperbaiki,” katanya.

Warga lain, Polni Rapas, juga mempertanyakan perubahan volume pekerjaan yang bersumber dari APBN tersebut.

“Anggaran sudah dipalu, tapi kok tiba-tiba dipangkas?” ujarnya kesal.

Menurut Polni, informasi awal menyebutkan alokasi anggaran sebesar Rp 15 miliar untuk 3,5 kilometer, namun tiba-tiba berubah menjadi Rp 12 miliar untuk 2,5 kilometer.

“Alasannya efisiensi dan dialihkan ke bencana di Sumatra,” ujarnya bernada kesal.

Ia mengatakan, informasi 3,5 kilometer masih diumumkan pemerintah desa pada November. Begitu pula data dari PPK yang disebutnya tidak berubah hingga bulan yang sama.

“Jadi perubahan ini datang dari mana? Siapa yang mengubah? Kapan diputuskan? Kenapa tidak diinformasikan? Masyarakat itu bukan penonton yang bisa dibodohi. Transparansi itu wajib, bukan bonus.”

Polni juga mempertanyakan kemungkinan adanya kejanggalan dalam proses perubahan anggaran.

“Kalau anggaran menyusut diam-diam, wajar kalau muncul pertanyaan: Ada permainan? Ada kepentingan? Atau ada yang coba ambil kesempatan?”

Ia mendesak PPK proyek agar memberi penjelasan terbuka kepada warga, termasuk soal papan proyek yang tidak mencantumkan volume pekerjaan.

“Mohon dengan hormat PPK untuk menjelaskan secara terbuka ke publik, khusunya kami masyarakat Desa Lembur,” tukasnya.

Proyek yang menggunakan dana Inpres tersebut tercatat dengan nama Preservasi Jalan Kisol–Mok–Paan Leleng–Mukun, nomor kontrak HK.0201-bpjn 11.8.4/794, dengan nilai Rp 15,6 miliar.

Pelaksananya adalah PT Wijaya Graha Prima di bawah tanggung jawab Satker Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah III Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT, Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.4 Satker PJN III NTT, Franky Simamora, yang dikonfirmasi VoxNtt.com pada Jumat, 12 Desember 2025, mengatakan pihaknya sudah melakukan sosialisasi bersama camat dan warga.

“Izin sudah disosialisasikan ke warga oleh kita dan Pak Camat dan warga dua desa sudah memahami,” katanya.

Franky menjelaskan pengurangan volume pekerjaan terjadi karena efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.

“Terkait pemotongan efisiensi dan optimasi anggaran dari Pusat,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa papan proyek telah sesuai standar Kementerian PU, meski tidak mencantumkan volume pekerjaan.

“Saya cek lagi papan proyeknya sudah standar Kemen PU kak,” ujarnya.

Penulis: Ronis Natom

Manggarai Timur Matim PT Wijaya Graha Prima
Previous ArticleKuasa Hukum Fauzy Djawas Minta Hakim PN Kupang Teliti dalam Gugatan Praperadilan Ade Kuswandi
Next Article Caritas Keuskupan Ruteng Bantu 17 Korban Bencana Sepanjang 2025

Related Posts

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.