Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Sebelum Dipecat, Guru-guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i Diintimidasi dan Dipaksa Tandatangani Kertas Kosong
Pendidikan NTT

Sebelum Dipecat, Guru-guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i Diintimidasi dan Dipaksa Tandatangani Kertas Kosong

By Redaksi4 September 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pria yang mengaku diri sebagai sekuriti SMKN 1 Wae Rii melarang wartawan untuk wawancara Kepala Sekolah Yustin Romas. (Foto: Yohanes/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT – Guru-guru komite pada SMKN 1 Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai mengalami intimidasi sebelum akhirnya dipecat oleh Kepala Sekolah Yustin Romas.

Mereka dipanggil satu persatu ke dalam ruangan kepala sekolah untuk “dibina” oleh kepala sekolah dan ketua komite sekolah. Di dalam ruangan, mereka mengalami intimidasi dan penghinaan.

Tak hanya itu, mereka juga dipaksa untuk menandatangani kertas kosong. Di antara guru-guru komite, ada yang terpaksa menandatangani kertas kosong tersebut. Namun ada pula yang menolak membubuhkan tanda tangan karena tak ingin disalahgunakan untuk niat buruk sang kepala sekolah dan ketua komite.

Hal itu terungkap dalam siaran pers yang disampaikan Koordinator Forum Guru Komite Ignasius Bata dan Koordinator guru PNS Edwaldus Kurniawan, Kamis (03/09/2020).

“Pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah itu penuh dengan intimidasi. Ketua komite, Bpk. Damianus Jurus bahkan ikut mengintimidasi guru dengan menyampaikan bahwa guru-guru yang ikut demo adalah guru bejat. Ini tentu pernyataan yang sangat menghina. Lalu, guru-guru dituntut untuk menandatangani sebuah surat kosong yang tidak ada isinya,” tulis forum guru.

Anehnya, pembinaan penuh intimidasi, penghinaan, hinga upaya manipulasi melalui penandatanganan kertas kosong itu dijadikan syarat untuk penandatanganan supervisi perangkat pembelajaran sekaligus syarat untuk bisa menerima gaji bulan Agustus 2020.

Upaya klarifikasi kepada kepala sekolah usai dipecat, tidak membuahkan hasil. Kepala sekolah malah menantang korban pemecatan untuk mengajukan gugatan PTUN. Hal serupa juga dialami ketika para korban mendatangi Korwas Dikmen Fransiskus Borgias Hormat.

Korwas sebagai perpanjangan tangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PdanK) NTT mengatakan pemecatan guru komite merupakan hak kepala sekolah. Ia juga mendukung pernyataan kepala sekolah agar para korban mengajukan gugatan ke PTUN.

Mereka mengaku, sikap Dinas PdanK yang lamban memang terasa sejak awal persoalan ini dilaporkan forum guru pada Juni 2020 lalu. Respon dinas tersebut baru muncul pasca guru-guru menggelar demonstrasi di sekolah. Pada tanggal 21-22 Juli 2020, Dinas PdanK melalui Kabid GTK Adelino Soarez mendatangi sekolah itu.

“Forum guru PNS dan guru komite sangat mengharapkan kehadiran Kabid GTK, Pa Adelino Soares, mampu memberikan kesejukan dan kedamaian di SMK Negeri 1 Wae Rii. Namun, ternyata kehadiran Kabid GTK tidak bisa menciptakan situasi kondusif di sekolah,” tulis guru-guru.

Mereka menjelaskan, persoalan utama sesungguhnya berawal dari hak guru komite terkait gaji selama tahun 2019 dan tahun 2020. Guru-guru PNS ikut terlibat dan mendukung perjuangan tersebut karena menyangkut martabat guru.

“Mungkin kepala sekolah dan para pendukungnya beranggapan bahwa keputusan kepala sekolah memotong gaji guru komite dari gaji pokok Rp1.200.000 menjadi Rp150.000, dari Rp1.250.000 menjadi Rp 212.000, dan yang lainnya adalah hal yang berprikemanusiaan dan wajar,” tulis guru-guru.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, VoxNtt.com sudah berusaha untuk mewawancarai Kepala Sekolah Yustin Romas. Namun ia tak bersedia memberikan tanggapan.

Penulis: Yohanes

SMKN 1 Wae Rii
Previous ArticleMaju Pilkada Manggarai, Deno Kamelus Minta Restu Leluhur di Tanah Kelahiran
Next Article Terdakwa Pembawa Kabur Siswi SMA di TTU Divonis 8 Tahun Penjara

Related Posts

Peringati Hari Anak Nasional, Yayasan TKK Fransiskus Assisi Karot Perkuat Tata Kelola dan Mutu Pendidikan

28 Juli 2026

Kepala SMPN Satap Munde Bantah Dugaan Pungli, Sebut Uang dari Orangtua Bersifat Sukarela

22 Juli 2026

Dugaan Pungli Pengambilan SKL dan Ijazah di SMPN Satap Munde Matim, Warga Desak Dinas Tindak Tegas

18 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.