Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Yustina: “Kami sudah lama ditindas, kami tidak mau keluar dari tanah ini”
Feature

Yustina: “Kami sudah lama ditindas, kami tidak mau keluar dari tanah ini”

By Redaksi20 Oktober 20162 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, VoxNtt.com-Setelah hampir sebulan belum ada tanda-tanda kelanjutan atas mediasi konflik tanah Nanghale, Sikka, NTT, salah satu tokoh perempuan dari masyarakat adat, Yustina Yusminiati Goban kepada media ini  Selasa, (18/10) menegaskan bahwa mereka (masyarakat adat) tidak akan mengangkat kaki dari daerah itu.

Yustina mengatakan masyarakat yang ada di bawah Tana Pu’an Suku Soge dan Tana Pu’an Suku Goban yang meliputi dua suku besar Soge dan Goban serta puluhan sub suku akan tetap bertahan di lokasi.

“Nenek moyang kami sudah menyusu dari tanah ini. Oleh karenanya kami dan anak cucu kami akan tetap menyusu dari tanah ini,” ujarnya.

Menurut dia, dari keseluruhan wilayah ulayat yang ada dalam kuasa pengaturan oleh Tana Pu’an Suku Soge dan Tana Pu’an Suku Goban, kawasan Hak Guna Usaha (HGU) adalah kawasan yang paling subur.

“Tanah ini subur, sumber air melimpah. Masa tanah yang subur ini pemerintah mau berikan ke perusahaan gereja sementara kami masyarakat harus mengelolah tanah di gunung yang juga masuk kawasan hutan. Kami sudah lama ditindas. Kami tidak mau keluar!” tegasnya.

Menurut dia, sudah seratus tahun lebih sejak tanah ino dirampas masyarakat adat sebagai pemilik wilayah tidak pernah sejahtera.

“Kami baru mulai merasakan perubahan setelah kami mulai masuk menduduki lahan dan mengusahakannya,” ungkap perempuan dari Suku Watu ini.

Menurutnya, contoh paling nyata bisa dilihat dari tidak ada satu pun masyarakat setempat yang menjadi pimpinan perusahaan.

“Kami ini hanya dijadikan petik dan penjaga,” ujar perempuan yang menghadang buldozer Pemda Sikka saat hendak melakukan penggusuran pada akhir 2014 lalu.

Dalam pertemuan sebelumnya bersama Komnas HAM, konflik tanah yang melibatkan gereja, masyarakat dan pemda Sikka ini  dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera dan Paulus Nong Susar, Ketua DPRD Sikka Rafael Raga, serta para pastor yang mewakili PT.Krisrama dan pejabat-pejabat terkait.

Pertemuan ini menghasilkan dua kesepakatan yakni: pertama, proses mediasi akan dilanjutkan dengan pertemuan kedua yang mana waktu dan tempat akan ditentukan oleh Komnas HAM.

Kedua, sebelum pertemuan kedua dilakuan pemerintah perlu membentuk tim gabungan yang terdiri atas unsur Pemerntah Daerah, masyarakat adat dan LSM-LSM yang selama ini mendampingi masyarakat untuk melakukan penelitian lapangan. (Are/Andre/VoN)

 

Sikka
Previous ArticleMasyarakat Adat Nanghale, Sikka Menanti Kelanjutan Mediasi Komnas HAM
Next Article Belum Ada Regulasi, 303 Potensi PAD Mabar Tidak Terurus

Related Posts

Wakil Bupati Nagekeo Terjatuh dari Kuda Saat Penyambutan Peserta MTQ NTT

23 Juni 2026

Pembeli Puas, Lapak Ikan Brigadir Oebesa Klaim Kantongi Izin Lengkap dan Kelola Limbah dengan Baik

23 Juni 2026

Rokok Ilegal Humer Diduga Kuasai 50 Persen Pasar Manggarai, Bea Cukai Turunkan Tim Penindakan

19 Juni 2026
Terkini

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026

Padma Indonesia Kecam Dugaan Intimidasi Warga Tonggurambang Terkait Rencana Pembangunan Fasilitas Militer

24 Juni 2026

IPSI Manggarai Barat Lepas Delapan Atlet ke Kejurda Pencak Silat NTT di Ruteng

24 Juni 2026

Satlantas Polres Manggarai Patroli Malam, Antisipasi Balap Liar dan Kecelakaan Lalu Lintas

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.