Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU
NTT NEWS

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

By Redaksi27 Juni 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Gabriel Goa
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Tenaga Ahli Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Bidang Pelayanan HAM, Gabriel Goa, mendesak DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) memanggil dan memeriksa anggota DPRD yang diduga melakukan intimidasi terhadap dokter Bernadetha Icha Nabuasa atau Dokter Icha sebelum meninggal dunia.

Menurut Gabriel, dugaan intimidasi terhadap tenaga kesehatan merupakan tindakan yang tidak hanya melanggar etika, tetapi juga berpotensi melanggar hak asasi manusia.

“Praktik premanisme yang melakukan pelanggaran kode etik dan HAM terhadap tenaga kesehatan berdampak tragis pada meninggalnya Dokter Icha,” kata Gabriel dalam keterangannya, Sabtu, 27 Juni 2026.

Gabriel mengatakan, berdasarkan pengalamannya mendampingi dan memberikan penguatan kepada tenaga kesehatan di berbagai daerah di Indonesia, masih banyak tenaga kesehatan yang mengalami intimidasi, tekanan psikologis, bahkan kekerasan dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat harkat dan martabat tenaga kesehatan kerap terabaikan, termasuk hak atas rasa aman, hak memperoleh upah yang layak, serta perlindungan terhadap profesi mereka.

Atas peristiwa yang menimpa Dokter Icha, Gabriel menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Kami menyampaikan duka yang mendalam dan mendoakan Dokter Icha berbahagia abadi di surga serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan,” ujarnya.

Selain meminta DPRD TTU melakukan pemeriksaan terhadap oknum anggota dewan yang diduga terlibat, Gabriel juga mendesak manajemen rumah sakit memperkuat perlindungan terhadap tenaga kesehatan dan pasien.

Ia meminta rumah sakit menerapkan standar pelayanan berbasis HAM guna menjamin rasa aman bagi seluruh pihak yang berada di lingkungan rumah sakit.

“Pimpinan rumah sakit perlu menyiapkan rumah sakit berstandar HAM agar pasien maupun seluruh tenaga yang melayani di rumah sakit terjamin rasa aman, damai, dan mendapatkan pelayanan penuh kasih tanpa diskriminasi,” kata Gabriel.

Kasus meninggalnya Dokter Icha sebelumnya menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan adanya tekanan psikologis yang dialaminya terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit tempat ia bertugas.

Hingga kini, berbagai pihak masih menyoroti perlunya pengusutan terhadap dugaan intimidasi yang terjadi serta penguatan perlindungan bagi tenaga kesehatan.

Sebagaimana dilansir TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID, Dokter Icha, dokter jaga di RSU Leona Kefamenanu yang sebelumnya diduga mengalami intimidasi oleh oknum anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU) saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD), meninggal dunia pada Jumat malam, 26 Juni 2026. Kepergiannya terjadi sehari setelah keluarga melaporkan dugaan intimidasi tersebut kepada Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU.

Kabar meninggalnya Dokter Icha dibenarkan perwakilan keluarga, Viktor Manbait. Berdasarkan keterangan ayah almarhumah, Gabriel Pakaenoni, Dokter Icha meninggal sekitar pukul 18.30 Wita.

“Penyebab meninggalnya Dokter Icha akan kami sampaikan secara resmi setelah seluruh proses penanganan medis selesai dilakukan,” ujar Viktor, Jumat, 26 Juni 2026.

Sehari sebelum meninggal, keluarga secara resmi melaporkan dugaan intimidasi yang dialami Dokter Icha kepada BK DPRD TTU. Laporan tersebut disampaikan langsung oleh ayah almarhumah disertai kronologi tertulis mengenai peristiwa yang dialami putrinya.

Selain ke BK DPRD TTU, keluarga juga menyampaikan laporan kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang TTU. Langkah itu dilakukan untuk mencari keadilan sekaligus mendorong perlindungan terhadap tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Sebelum putrinya meninggal, Gabriel berharap laporan tersebut diproses sesuai mekanisme yang berlaku.

“Kami berharap ini menjadi evaluasi bersama agar tekanan atau intimidasi serupa tidak perlu dialami lagi oleh tenaga medis lain di masa mendatang,” ujarnya.

Peristiwa yang dilaporkan keluarga terjadi di ruang IGD RSU Leona Kefamenanu pada Sabtu, 13 Juni 2026. Saat itu, seorang pasien anak korban gigitan ular dirujuk dari RSUD Kefamenanu untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Sebagai dokter jaga, Dokter Icha melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter spesialis sesuai standar operasional prosedur. Berdasarkan pertimbangan medis, pasien belum direkomendasikan menerima vaksin tertentu. Di saat yang sama, stok vaksin tersebut juga dilaporkan sedang tidak tersedia di RSU Leona.

Menurut keluarga, penjelasan itu tidak diterima pihak keluarga pasien yang tetap mendesak agar vaksin diberikan. Situasi kemudian memanas ketika salah seorang anggota keluarga pasien membentak Dokter Icha sambil mengaku sebagai anggota DPRD TTU. Tidak lama kemudian, seorang anggota DPRD TTU lainnya turut masuk ke ruang IGD.

Keluarga menyebut peristiwa itu berdampak pada kondisi psikologis Dokter Icha. Keesokan harinya, saat hendak kembali bertugas, almarhumah disebut mengalami syok setelah melihat kedua oknum anggota dewan tersebut masih berada di lingkungan rumah sakit sehingga memilih kembali ke tempat tinggalnya.

Pada malam harinya, rekan-rekan kerja mendatangi kediaman Dokter Icha setelah tidak dapat menghubunginya. Ia kemudian ditemukan dalam kondisi lemah dan dilarikan ke RSU Leona untuk mendapatkan penanganan medis.

Sebelumnya, perwakilan keluarga juga mendatangi Kantor DPRD TTU untuk memprotes dugaan intimidasi tersebut serta meminta adanya jaminan perlindungan bagi tenaga kesehatan di Kabupaten TTU. [VoN]

DPRD TTU Gabriel Goa Timor Tengah Utara
Previous ArticleBanggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal
Next Article Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

Related Posts

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026
Terkini

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.