Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Senja di Atas Batu Sisa
Sastra

Senja di Atas Batu Sisa

By Redaksi13 April 20265 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Alvianus Tay

Pada sebuah senja yang buram, murung menjelma murid paling kurang ajar. Siti duduk bersila di atas batu ceper, sisa longsor minggu lalu yang masih menyimpan aroma maut. Ia memandang jauh, menembus cakrawala. Jiwanya tak lagi menghuni raga; ia terbang ke sana hingga awan-awan pucat membawanya pulang ke keabadian.

Setibanya kembali di atas batu itu, matanya perlahan luruh. Bukan sekadar basah, melainkan direndam rindu yang enggan pupus. Maklum, dua minggu lalu adik terkasihnya menutup mata, melangkah dari kefanaan yang sesak menuju baka. “Begitulah takdir,” gumam Pak Haji saat sholat bersama, sebuah kalimat yang terdengar begitu dingin di telinga yang sedang terbakar lara.

Siti masih saja mematung, terkapar pada tatapannya sendiri sementara waktu perlahan memudar di sekelilingnya. Dingin mulai mengeroyok tubuh mungilnya, namun ia enggan melepas “indahnya derita” yang ia tatap dari kejauhan.

Sesekali ia menopang dagu; sebuah isyarat bahwa kepalanya terlalu berat untuk ditopang leher yang rapuh. Burung kenari menari-nari di atas kepalanya, seolah gerombolan itu sedang mementaskan pertunjukan penghibur bagi jiwa yang sedang mati suri. Ia tak tersenyum. Diam adalah satu-satunya bahasa tubuh yang paling mungkin.

Mungkin ia masih saja mengais memori tentang sosok adiknya yang ramah, yang perginya serupa mimpi siang bolong-cepat dan tak masuk akal. Siti belum mampu keluar dari “kamp luka” ini; ia terlalu lunglai untuk sebuah perpisahan yang bersifat kekal.

Ia terlalu muda untuk menanggung kepastian kenyataan. “Apakah pasti ia harus pergi sedini ini?” Pertanyaan itu menggerayangi pikirannya yang kaku. Ia mengeluh. Habis peluh karena keluhan, namun tak berbuah manis, hanya mengalirkan air mata yang sia-sia.

Ia duduk sendiri dan selalu menyendiri. Di atas batu itu, ia bercerita pada kesunyian. Ini bukan sekadar ilusi tentang luka yang berkabut; ini adalah derat derita yang menghujam dada hingga napasnya terasa tersumbat batu. Adiknya pergi saat cinta sedang mekar-mekarnya. Siti telah merawatnya tanpa syarat, memilikinya sekuat napas. Tak ada “satu setan dua bintang” yang mampu memisahkan mereka, namun takdir memiliki cara yang lebih jeli untuk mengunyah ego manusiawinya hingga tuntas.

Siti teringat petuah neneknya di pondok tua belakang gunung: “Cinta adalah narasi eksistensial diri yang paling murni. Bahasa hidup yang absolut.” Dengan demikian, saat yang tercinta hilang, Siti merasa kehilangan dirinya sendiri. “Inikah benar?” tanyanya pada angin yang hanya membalas dengan kegelisahan. “Apakah ia tidak mencintaiku?” ujarnya pelan pada langit yang menjadikannya sebatang kara. Ia kehilangan “palungan pulang”, hanya menyisakan sandaran sepi yang penuh duri.

Di balik tirai tak terlihat, sang adik mungkin tengah tersenyum mewah dalam keabadian. Sementara Siti? Ia meratapi nasib yang enggan memudar, berharap ada sedikit celah untuk memikirkan hari esok. Teman-temannya menari tanpa beban, berpindah dari satu keriangan ke keriangan lain.

Sedangkan Siti, ia hanya beranak-pinak dalam piatu akan kehilangan. Kehilangan menjadikannya tiada; ia terhempas jauh, terbuang dan seolah terkutuk dari eksistensinya sendiri. Ia tak tahu kapan benar-benar pulang. Rindu menggebu, duka menguap, dan derita mengalirkan darah.

Siti masih di sana, di atas batu ceper itu-altar tempat ia mempersembahkan segala nestapa. Di sana, ia menjadi satu dengan ketiadaan adiknya. “Siti, Siti,” bisik para tukang batu yang memecah sisa longsor dengan hati-hati. Mereka sering melihat Siti duduk di sana, dengan mata yang terbuka dan tertutup bergantian. Seolah-olah dari kelopak itu, darah mengandung air mengalir tanpa ampun. Mereka mengabaikannya, namun di balik ketidakpedulian itu, tersimpan rasa kasihan yang dangkal. Hanya itu. Tidak lebih.

Dunia tak lagi menarik bagi Siti. Ia kehilangan segalanya dan terhempas ke dasar rasa pahit yang pekat. Melihat langit cerah adalah kejarangan. Sejak kecil, ia hanya memiliki nenek dan adiknya.

Ayah dan ibunya pergi merantau demi mengejar “hujan emas” di negeri orang, namun justru meninggalkan “hujan batu” di hati anak-anaknya. Ayah dan ibunya harus pergi karena jeratan kemiskinan; sebuah pepatah pahit yang harus mereka telan mentah-mentah. Neneknyalah yang menjadi pilar kekuatan utama.

Awalnya, kabar sering datang membawa senang. Namun, kekacauan di tanah perantauan memisahkan ayah ke selatan dan ibu ke utara. Jarang sekali mereka bersua muka. Lima bulan awal, telepon masih berdering bergantian. Siti, adik, dan neneknya sangat senang saat kiriman uang datang. Namun, realitas selalu saja berubah mengikuti tuntutan perut dan kehidupan. Hidup berpaling begitu cepat, menitipkan luka yang menganga lebar.

Kini, telepon tak lagi berdering. Kabarnya, ayah dan ibu pun sudah tidak saling kontak. Mereka berjauhan dalam rasa; dua orang asing yang pernah berbagi tempat tidur dan harapan. Kini mereka telah menjadi dua dunia: dunia lupa dan dunia luka. Siti merasa kehilangan segalanya-kontak dengan orang tuanya terputus, dan kini ia kehilangan adiknya, satu-satunya alasan baginya untuk terus berjalan. Mengenang hanya berujung luka, namun melupakan adalah muskil.

Mengingat sembari melupakan adalah dua mata pisau yang menikam hati Siti yang rapuh. Di atas batu ceper itu, Siti menghabiskan narasi hidupnya. Neneknya pun menyusul tak lama setelah adiknya tiada karena sakit diare. Siti masih saja hidup, hanya karena hidup itu sendiri yang enggan melepaskannya. Jika hidup bukan alasan, ia sudah lama memilih mati. Namun kini, hidupnya adalah sebuah kematian yang bergerak; tubuhnya berayun, namun pikirannya telah membatu dalam lautan derita. Ia bukan lagi Siti Rahman, melainkan Siti Rindu yang mustahil.

Hingga akhirnya, di atas batu ceper itu, nama Sitti Rahman tertulis dengan rapi. Mengenang kepergiannya dua bulan lalu, sebelum malam benar-benar menjemput pagi. Ia pergi membawa segala perih yang kini dirindukan oleh batu ceper di samping pondok neneknya.

Ia menceritakan luka yang tak terlupakan lewat namanya yang terukir indah: Sitti Rahman, wanita lara berbalut darah.

Kini ia dikenang melalui kepahitan hidup yang berundak-undak. Dari jejaknya, segala diri digugat dan diapungkan pada sebuah mimpi tentang perjumpaan “di atas sana”.

Di teras nurani, detak keinginannya kini telah sampai pada tempat sunyi tanpa tekanan, derita, dan gangguan batin. Sitti Rahman telah menjadi wanita paling sunyi yang melukai, meninggalkan kisah yang kekal di atas batu. “Kita hanyalah tanah yang diberi nyawa,” gumam para pemecah batu saat melewati nisannya.

Di tempat yang sunyi ini, luka diawetkan dengan anggun dan rindu dirayakan setiap senja tiba.
Selamat jalan. Jumpa akan selalu ada saat rindu melalang buana. Sitti Rahman, rindu dan pilu kini telah tuntas bercerita.

Alvianus Tay
Previous ArticleBPBD Manggarai Koordinasi dengan Dinsos soal Penanganan Banjir di Desa Manong
Next Article PKB Proses PAW Dua Anggota DPRD Manggarai Timur, Ini Alasannya

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Lambaian di Balik Jaring Besi

8 April 2026
Terkini

Satlantas Polres Manggarai Patroli Malam, Antisipasi Balap Liar dan Kecelakaan Lalu Lintas

24 Juni 2026

Jangan Suapi Kami Jawaban: Gugatan Pemuda atas Pendidikan Tanpa Dialog

24 Juni 2026

Spiritualitas Yohanes Pembaptis: Bertobat Tiap Kali Minum Air, Mandi, Masak, dan Buang Air

24 Juni 2026

Membongkar Mitos ‘Indonesia Barat Sibuk Demo, Indonesia Timur Sibuk Pesta Bola

23 Juni 2026

Wakil Bupati Nagekeo Terjatuh dari Kuda Saat Penyambutan Peserta MTQ NTT

23 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.